<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Bhayu Senoaji &#187; kaum munafik</title>
	<atom:link href="http://bhayusenoaji.wordpress.com/tag/kaum-munafik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com</link>
	<description>MARI KITA PERJUANGKAN NEGERI INI …</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Aug 2008 02:52:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bhayusenoaji.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/140fc80fba38e18696acc295e7a01ac7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cerita Bhayu Senoaji &#187; kaum munafik</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bhayusenoaji.wordpress.com/osd.xml" title="Cerita Bhayu Senoaji" />
		<item>
		<title>Kaum Munafik; Selalu Plin-plan dan Bingung</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/kaum-munafik-selalu-plin-plan-dan-bingung/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/kaum-munafik-selalu-plin-plan-dan-bingung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 11:06:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kaum munafik]]></category>
		<category><![CDATA[plin-plan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[“Dan ketika dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah sebagaimana manusia-manusia beriman’, mereka berkata: ‘apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh beriman’. Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu sendirilah yang bodoh. Tetapi mereka tidak mengetahui. Dan ketika mereka bertemu dengan orang beriman, mereka akan mengatakan: ‘Kami beriman’. Dan ketika mereka menyendiri kepada pimpinan-pimpinan mereka, maka mereka (kaum munafik) berkata: ‘Sesungguhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=7&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:100%;"><em><span lang="IN">“Dan ketika dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah sebagaimana manusia-manusia beriman’, mereka berkata: ‘apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh beriman’. Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu sendirilah yang bodoh. Tetapi mereka tidak mengetahui. Dan ketika mereka bertemu dengan orang beriman, mereka akan mengatakan: ‘Kami beriman’. Dan ketika mereka menyendiri kepada pimpinan-pimpinan mereka, maka mereka (kaum munafik) berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanya bersendagurau saja (dengan pernyataan iman)’. Allah menjadikan mereka gurauan dan membiarkan mereka kebingungan dalam kedzaliman mereka.”</span></em><em><span lang="IN"><br />
</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:100%;"><em><span lang="IN">(QS. Al Baqarah: 12-15)</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Diantara sifat kaum munafik adalah bahwa mereka ini memiliki rasa rendah diri terhadap Islam. Hal ini karena pada masa Rasulullah SAW, sebagian besar kaum muslimin adalah lapisan bawah masyarakat. Mereka ini ada yang berasal dari kalangan budak, fakir miskin, dan kelompok masyarakat yang teroinggirkan dalam sistem masyarakat jahiliyyah. Dan mayoritas mereka ini adalah kaum yang tidak terpelajar. Bahkan banyak sekali di antara mereka yang tidak mengenal baca tulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Sementara mayoritas penentang Islam adalah masyarakat yang relatif lebih sejahtera. Di Makkah mereka terdiri dari kaum bangsawan Quraisy. Di Madinah mereka ini adalah kalangan Yahudi. Kedua kelompok masyarakat tersebut relatif lebih sejahtera dan terpelajar. Rata-rata mereka ini mengenal budaya tulis-menulis yang pada saat itu menjadi simbol ketinggian status ilmiah. Dan jika seseorang mengarahkan pandangan ke luar Jazirah Arab, maka ia akan bisa segera melihat bahwa di sana ada bangsa Romawi yang beragama Nasrani dan kerajaan Persia yang beragama Majusi. Kedua bangsa ini terkenal dengan ketinggian peradabannya. Karena itulah, setiap kali kaum munafik diajak agar ber-Islam secara <em>kaffah</em> (total), maka mereka akan mengatakan (baik secara terang-terangan atau tersembunyi) bahwa Islam adalah agama orang-orang bodoh. Karena itulah, mereka lebih suka dengan akidah kaum yang mereka anggap sebagai masyarakat maju.</span><span id="more-7"></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Mental seperti ini saat ini banyak kita jumpai dalam masyarakat kita. Mereka ini lebih suka dengan gaya hidup Yahudi/Nasrani. Mereka membebek segala hal yang berasal dari barat, mulai masalah yang paling sepele seperti penampilan, hingga masalah yang paling prinsip seperti dalam hal pandangan hidup. Ketika mereka ini disodori ajakan agar ber-Islam secara <em>kaffah</em>, maka mereka ini akan menolak. Mereka ini takut akan mendapat sebutan-sebutan negatif yang dimunculkan oleh kaum Salib/Yahudi Eropa. Misalnya disebut sebagai teroris, fundamentalis, konservatif, dan sebutan-sebutan lain yang bermakna pelecehan. Seolah-olah mereka ini mengucapkan (walaupun secara perilaku): “Haruskah kami beriman sebagaimana orang-orang bodoh beriman?”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Padahal sebenarnya apa yang saat ini disebut sebagai kemajuan dan intelektualitas sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Apa yang saat ini didengung-dengungkan berbagai kelompok yang anti terhadap Islam, berupa slogan-slogan demokrasi, kebebasan, kesetaraan gender, pluralisme, dan sebutan-sebutan manis lainnya, sebenarnya adalah penamaan-penamaan baru dari cara hidup Jahiliyyah yang sudah ada sejak zaman purba. Dan kedatangan para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah manusia dari berbagai pola hidup yang sekarang ini diangkat kembali dengan istilah-istilah yang manis. Hal ini karena ketika berbagai pola hidup tersebut diterapkan, yang muncul bukan kebahagiaan manusia. Namun berbagai bentuk penindasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Dalam ayat di atas ada kata <em>sufahaa’</em> (jama’ dari <em>safih</em>). Kata ini sebenarnya tidak sama dengan <em>jahil</em> (bodoh). Makna <em>safih</em> ini lebih rendah lagi, yaitu idiot atau keterbelakangan mental. Dari ayat di atas nampak sekali standar-standar peringkat <em>al alim</em> (orang yang berilmu). Kalau kita merujuk pada ayat di atas, kita akan melihat bahwa standar-standar akademik tidaklah menjadi syarat seseorang yang dikatakan sebagai <em>alim</em>. Standar pertama tingkat kealiman seseorang adalah penerimaan yang total dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Sehingga walaupun seseorang itu, katakanlah tidak sekolah, ketika ia memiliki keimanan yang sempurna, maka manusia tersebut di sisi Allah disebut <em>al alim</em>. Sebaliknya, ketika seseorang itu memiliki latar belakang akademis yang baik, ketika orang tersebut tidak beriman secara total/munafik, maka orang tersebut disisi Allah diberi gelar <em>idiot</em> atau cacat mental.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Pada rangkaian ayat di atas, kita juga dapat melihat watak-watak lain dari kaum munafik. Yaitu sikap plin-plan sepanjang hidup mereka. Ketika mereka bertemu dengan kaum beriman, mereka ikut-ikutan meneriakkan dan mengucapkan ungkapan-ungkapan keimanan. Seolah-olah mereka adalah bagian dari komunitas kaum beriman. Mungkin hal ini mereka lakukan karena mereka takut terkucil atau takut kepentingan duniawi mereka terganggu.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Sebaliknya, ketika mereka bertemu dengan musuh-musuh Islam, mereka secara diam-diam atau terang-terangan menyatakan kepemihakan kepada musuh-musuh Islam tersebut. Mereka membuat seribu satu alasan bahwa mereka bukan bagian dari kaum mukminin. Bisa jadi karena alasan terpaksa, atau karena tekanan lingkungan, atau karena mengamankan kepentingan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Manusia model seperti ini sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Sebab, keberadaan mereka susah untuk dikenali. Sementara akibat dari gerakan mereka dapat menimbulkan kehancuran yang jauh lebih dahsyat daripada kehancuran akibat perang. Inilah yang pada awal tahun 1900-an terjadi di Turki. Saat Mustafa Kemal memimpin perang bangsa Turki melawan sekutu di perang dunia I, dengan tidak malu-malu ia memperalat agama. Takbir dikumandangkan. Ulama’-ulama’ dimobilisasi untuk memberikan fatwa jihad dan doa bagi pasukan perang. Hingga kemudian ia berhasil mengerahkan kaum muslimin dalam jumlah besar untuk mengusir tentara sekutu dari Turki.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Namun ketika kemudian tentara sekutu terusir dari Turki, Mustafa Kemal memainkan babak baru dalam sejarah hidupnya. Yaitu perang terhadap Islam. Ia bubarkan khilafah yang saat itu berpusat di Istambul Turki. Kemudian ia proklamirkan bahwa negara tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam. Disusul kemudian dengan pembaratan bangsa Turki yang dilakukan dengan tangan besi. Itupun masih belum cukup. Ia mengharamkan semua yang berbau Arab, seperti bahasa Arab atau tulisan Arab bagi masyarakat Turki. Bahkan hingga shalat dan adzan pun harus dalam bahasa Turki.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Di era kita saat ini, manusia-manusia plin-plan seperti ini banyak sekali kita temui. Baik itu dalam bentuk kelompok atau individu-individu. Ketika pemilu misalnya, betapa banyak manusia-manusia yang tampil seolah-olah santri dan loyal dengan Islam jika berada dalam komunitas santri atau komunitas Islam. Namun ketika ia berada di komunitas non Islam atau non santri, maka dengan mudah simbol-simbol ke-Islaman yang selama ini dipakainya ia campakkan. Sudah tentu manusia-manusia model seperti ini sangat berbahaya bagi siapa pun. Dalam tingkatan keluarga saja, keberadaan manusia seperti ini sangat berbahaya. Apalagi jika ia memimpin sebuah masyarakat atau terlebih lagi memimpin sebuah negara.</span></p>
<p><span lang="IN">Pada rangkaian ayat di atas dijelaskan, bahwa kaum munafik selalu dalam kebingungan dan kedzaliman. Mereka bingung karena setiap saat harus menempatkan diri dalam lingkungan yang berubah-rubah. Mereka merasa harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda-beda tersebut. Di samping itu mereka juga bingung dengan pilihan-pilihan sulit dalam kehidupan mereka. Di satu sisi mereka mengakui kebenaran Islam. Namun di sisi lain mereka takut kehilangan eksistensi di muka musuh-musuh Islam. Di satu sisi mereka ingin tergolong ke dalam kelompok kaum beriman masuk surga. Namun di sisi lain mereka tidak mau kehilangan kenikmatan dan kelezatan dunia. Yaah&#8230; demikianlah kaum munafik. Plin-plan, dan bingung. Siapa mau jadi orang munafik? <em>Na’udzu billah! (Zaka)</em></span></p>
<div style="text-align:right;"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73  TH.X  SYAWAL 1428<br />
</span><span style="font-size:100%;" lang="IN">aham_wahidiyah@yahoo.com</span><span style="font-size:100%;"><br />
</span></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=7&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/kaum-munafik-selalu-plin-plan-dan-bingung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>