<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Cerita Bhayu Senoaji &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://bhayusenoaji.wordpress.com/category/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com</link>
	<description>MARI KITA PERJUANGKAN NEGERI INI …</description>
	<lastBuildDate>Wed, 27 Aug 2008 02:52:53 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bhayusenoaji.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/140fc80fba38e18696acc295e7a01ac7?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Cerita Bhayu Senoaji &#187; Islam</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bhayusenoaji.wordpress.com/osd.xml" title="Cerita Bhayu Senoaji" />
		<item>
		<title>Meraih Kemenangan dengan Kekuatan Do’a</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/08/27/meraih-kemenangan-dengan-kekuatan-do%e2%80%99a/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/08/27/meraih-kemenangan-dengan-kekuatan-do%e2%80%99a/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 02:14:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[aham]]></category>
		<category><![CDATA[do'a]]></category>
		<category><![CDATA[meraih kemenangan]]></category>
		<category><![CDATA[wahidiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[
Saat ini manusia hidup dalam suasana materialisme. Maksud dari materialisme di sini adalah bahwa manusia modern saat ini meletakkan faktor-faktor yang tertangkap oleh akal dan panca indera sebagai faktor penting dalam kehidupan mereka. Segala keputusan mereka selalu mempertimbangkan hal-hal yang bersifat materi ini. Baru ketika faktor-faktor materi ini hilang, mereka mulai menengok cara-cara pemecahan masalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=92&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Saat ini manusia hidup dalam suasana materialisme. Maksud dari materialisme di sini adalah bahwa manusia modern saat ini meletakkan faktor-faktor yang tertangkap oleh akal dan panca indera sebagai faktor penting dalam kehidupan mereka. Segala keputusan mereka selalu mempertimbangkan hal-hal yang bersifat materi ini. Baru ketika faktor-faktor materi ini hilang, mereka mulai menengok cara-cara pemecahan masalah melalui pendekatan spiritual atau kerohanian. Misalnya melalui doa, istighotsah, istikharah atau <em>lelaku</em> spiritual lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Walaupun demikian, mereka ini masih mending. Hal ini karena sebagian besar masyarakat modern ini meletakkan faktor-faktor fisik sebagai satu-satunya alat dan pertimbangan dalam menanggapi permasalahan kehidupan. Ketika faktor-faktor ini tidak mereka dapatkan, mereka menjadi putus asa. Bahkan tak jarang keputusasaan ini menimbulkan berbagai penyimpangan kejiwaan. Seperti depresi, <em>shock</em> atau bahkan bisa mengarah kepada tindak bunuh diri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dan ternyata keadaan ini banyak terjadi di berbagai negara yang secara fisik maju. Di negara-negara yang saat ini menjadi kiblat kemajuan materi, seperti Amerika atau Jepang, bunuh diri telah menjadi penyakit sosial yang cukup serius. Dan hal ini bukan hanya menimpa kalangan rakyat jelata. Bahkan hingga menimpa kalangan super elit.</span><span id="more-92"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Di Jepang misalnya, pada awal 2007 ini publik dikejutkan oleh tindakan bunuh diri oleh Menteri Perdagangan Jepang. Beberapa tahun sebelumnya, sekitar tahun 2000-an, masyarakat Indonesia dikejutkan oleh bunuh diri yang dilakukan oleh salah seorang konglomerat nasional, Marimutu Marimaren. Jika kita menarik lebih ke belakang lagi, peristiwa bunuh diri di kalangan elit sudah bukan asing lagi. Di era tahun 60-an, masyarakat dikejutkan oleh bunuh diri yang dilakukan oleh salah seorang super star Amerika, Merlyn Monroe. Berbagai peristiwa ini menjadi petunjuk kuat bahwa memandang faktor materi sebagai satu-satunya rujukan dalam kehidupan akan membawa petaka bagi manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">KEDUDUKAN DOA DALAM ISLAM</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dalam Islam, Allah memandang segala permasalahan secara adil. Aspek-aspek fisik dan aspek-aspek ruhani mendapat perhatian yang berimbang. Islam sangat memperhatikan aspek fisik ini dalam kehidupan, hingga Allah berfirman: <em>“Dan bersungguh-sungguhlah kalian (berjihadlah kalian) dengan harta dan diri kalian.”</em> (QS. Al An’am:72). Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah SAW bersabda: <em>“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dalam semua bidang.”</em></span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Walaupun demikian, Allah juga membimbing kaum Muslimin untuk menggunakan potensi doa secara maksimal. Allah menantang hamba-Nya untuk meminta, sebagaimana dalam firman-Nya:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kalian, maka Aku akan mengabulkan doa untuk kalian.” (QS. Al Mukmin:60).</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Bukan hanya sampai di sini. Dalam pandangan Rasulullah SAW, doa bahkan menempati kedudukan yang paling inti dalam agama. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah SAW bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Doa adalah intisari ibadah.”</span></em><span lang="SV"> (HR. Tirmidzi/Shahih).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Ada beberapa hal yang kurang lebih melatarbelakangi sabda ini. <em>Pertama</em> adalah bahwa seorang yang berdoa berarti meyakini adanya Allah. Artinya, ketika seseorang itu berdoa, berarti ada keimanan di dalam hatinya. Tidak mungkin orang yang tidak meyakini adanya Allah akan berdoa. Karena bagi mereka yang tidak meyakini adanya Allah, untuk apa memohon pertolongan dengan sesuatu yang tidak nyata. Atau lebih ekstrim lagi adalah, untuk apa seseorang berdoa kepada sesuatu yang tidak ada.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Kedua</span></em><span lang="SV">, ketika seseorang berdoa, berarti ia meyakini sifat-sifat Allah SWT. Ia meyakini bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Mendengar. Karena itu ia memohon dengan kata-kata. Ia meyakini bahwa Allah bersifat <em>Welas Asih</em>. Karena itu, seorang pendoa tidak pesimis dari Allah. Hatinya senantiasa penuh harap kepada Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Ketiga</span></em><span lang="SV">, seseorang yang berdoa berarti mengakui keterbatasan kekuatannya. Bahkan bagi kalangan yang lebih tinggi lagi tingkatan spiritualnya, berdoa berarti pengakuan atas ketidakberdayaan total pada dirinya. Ia meyakini bahwa kekuatan dan kekuasaan hanyalah milik Allah semata. Hingga ia merasa tidak lagi membutuhkan siapa pun, kecual Allah SWT. Ini adalah tingkat spiritualitas yang sangat tinggi dalam Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dari ketiga hal di atas, dapat diketahui bahwa doa merupakan salam satu ciri khas seorang mukmin. Kehidupannya selalu merupakan keseimbangan antara upaya lahiriyah dan doa. Dengan demikian, seluruh potensi hidupnya lahir dan batin dapat ia pergunakan secara total dan sempurna.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">ANTARA DOA DAN RIDHO</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Ada dua hal yang diajarkan Islam yang kelihatannya berlawanan, yaitu ridho dan doa. Ridho artinya seseorang itu menerima apapun pemberian Allah pada dirinya. Hal ini muncul karena seorang mukmin akan senantiasa memandang Allah sebagai Tuhan Yang Maha Bijaksana (Al Hakiim), Maha Mencintai Hamba-Nya (Al Waduud) dan Maha Pengasih Penyayang (Rahmaan Rahiim). Karena itu, bagi penilaian sebagian orang, sangat tidak patut jika seseorang memprotes keputusan Allah dengan berdoa. Bukankan doa pada dasarnya adalah meminta? Dan ketika meminta, berarti seseorang memandang bahwa pemberian Allah itu kurang? Atau bisa juga berarti bahwa keputusan Allah itu tidak bijaksana? Hingga bagi kelompok itu, ridho lebih baik dari pada doa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sebagian lain mengatakan bahwa doa lebih baik daripada diam dengan alasan ridho. Hal ini karena doa adalah perilaku para hamba pilihan Allah. Para ulama’, orang-orang shaleh dari masa ke masa, para Nabi dan Rasul, bahkan hingga manusia yang paling sempurna, Rasulullah SAW masih berdoa. Padahal mereka adalah makhluk Allah yang utama dan terbaik. Bukan hanya itu saja. Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW memerintahkan manusia untuk berdoa. Lantas, pantaskah seseorang tidak berdoa kepada Allah? Patutkah dengan berbagai kenyataan seperti ini jika kemudian seseorang meninggalkan doa?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sebenarnya, antara doa dan ridho adalah dua hal yang tidak perlu dipertentangkan. Sebagaimana pertentangan antara hitam dan putih, atau pertentangan antara siang dan malam. Seseorang yang ridho bukan berarti harus meninggalkan doa. Sebaliknya pun demikian juga. Seseorang yang berdoa bukan berarti ia tidak ridho. Hal ini karena doa dan ridho memiliki wilayah yang berbeda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Seseorang memang harus ridho dengan ketetapan Allah, baik yang sudah lewat atau yang akan datang. Karena bagaimanapun juga, ketetapan dan pilihan Allah pasti lebih baik daripada ketetapan dan pilihan manusia. Namun perlu juga diingat, bahwa doa adalah perintah Allah. Dan pelaksanaan perintah Allah harus menjadi prioritas seorang mukmin. Di samping doa juga merupakan <em>sunnah</em> (tradisi) Rasulullah SAW. Dan melaksanakan <em>sunnah</em> Rasulullah SAW juga merupakan perintah Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Karena itulah, seseorang yang berdoa seharusnya lebih memfokuskan diri pada niat menanti perintah Allah (Lillah). Tegasnya, ia berdoa adalah semata-mata karena melaksanakan perintah Allah untuk berdoa. Apapun hasil dari doa itu, semuanya ia serahkan kepada Allah. Apakah Allah akan memberinya sebagaimana redaksi doa yang ia ucapkan, atau Allah memberi dalam bentuk lain, semua itu akan ia terima dengan penuh ridho kepada Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">ADAB-ADAB DALAM BERDOA</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Seseorang yang berdoa berarti ia sedang melakukan hubungan dengan Allah SWT. Sudah tentu ada aturan main agar hubungannya dengan Allah tersebut membuahkan hasil sebagaimana yang ia dambakan. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang dapat mempercepat terkabulnya sebuah doa.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Pertama</span></em><span lang="SV">, seorang pendoa hendaklah memperhatikan benar-benar waktu-waktu yang <em>mustajabah</em> (waktu-waktu istimewa dimana doa dikabulkan). Seperti hari Arofah, bulan Ramadhan, hari Jum’at terutama saat Khatib duduk di antara dua khutbab, dan waktu sahur. Ini adalah waktu-waktu istimewa dimana doa dikabulkan berdasarkan hadits-hadits Rasulullah SAW.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Kedua</span></em><span lang="SV">, seorang yang ingin doanya dikabulkan, hendaklah memanfaatkan keadaan-keadaan istimewa dimana sebuah doa dikabulkan. Misalnya, saat peperangan akan dimulai, saat turun hujan, saat seseorang berpuasa atau waktu antara adzan dan iqomat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Ketiga</span></em><span lang="SV">, berdoa dengan menghadap kiblat dengan mengangkat kedua tangan hingga kira-kira ketiak kelihatan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, <em>“Sesungguhnya Tuhanmu Maha Hidup lagi Dermawan. Ia malu jika hamba-Nya berdoa sambil mengangkat tangan memohon kepada-Nya, kemudian menolaknya sama sekali”</em> (HR. Al Hakim/Shahih).</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Keempat</span></em><span lang="SV">, merendahkan suara antara samar dan keras. Rasulullah SAW bersabda, <em>“Wahai manusia, sesungguhnya Dia (Allah) yang engkau doa bukanlah Tuhan yang tuli dan jauh. Sesungguhnya Dia (Dia) Allah yang engkau doa berada di hadapan kalian….”</em> (HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Kelima</span></em><span lang="SV">, tidak memaksakan diri berdoa dengan redaksi yang bernilai sastra jika hal ini menimbulkan kekurangkhusyuan berdoa. Berdoa dengan sastra yang baik hendaknya muncul sebagai suatu spontanitas. Bukan dibuat-buat. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda, <em>“Jagalah kalian dari memaksakan diri bersajak didalam berdoa.”</em> (HR. Bukhari).</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Keenam</span></em><span lang="SV">, merasa rendah hati dan hina sehina-hinanya (tadzallul), merasa seperti benar-benar di hadapan Allah wa Rasulihi SAW (istidlor), merasa berlarut-larut penuh dosa (tadhollum), penuh sesal atas dosa-dosa yang dilakukan (inkisar), khusyu’, penuh harap atas pertolongan Allah (iftiqor) dan penuh perasaan takut kepada-Nya. Hal ini sesuai dengan firman Allah, <em>“Memohonlah kalian kepada Tuhan kalian dengan tadhorru’ (merendah)….”</em> (QS. Al A’raaf: 54).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dalam sebuah haditsnya Rasulullah SAW memberi peringatan:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menerima doa dari hati yang lupa.”</span></em><span lang="SV"> (HR. Tirmidzi dan Al Hakim).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Sebagian Aulia juga mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Fadlol-Nya Allah (termasuk maghfirah, taufiq, hidayah, inayah, rahmat dan sebagainya) tidak akan diberikan kecuali kepada hati yang sungguh-sungguh ‘nelongso’ merasa penuh dosa dan sangat mengharap pertolongan Allah.”</span></em><span lang="SV"> (Taqribul Ushul: 217).</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Menghadap (termasuk berdoa) kepada Allah dan berwasilah dengan Rasulullah SAW dengan sungguh-sungguh tadzallul, merasa hina, ‘nelongso’ merasa penuh dosa dan sangat mengharap pertolongan Allah serta merasa tidak punya daya dan kekuatan, adalah pangkal segala kebaikan dunia dan akhirat.”</span></em><span lang="SV"> (Taqribul Ushul: 156).</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Ketujuh</span></em><span lang="SV">, jangan berdoa disertai dengan sikap pesimis/tidak yakin dengan pertolongan Allah. Seseorang yang ingin doanya dikabulkan haruslah yakin bahwa doanya akan dikabulkan. Dalam sebuah Hadits Qudsi Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah SAW juga pernah bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Jika kamu berdoa, maka yakinlah doamu itu pasti diijabah.”</span></em><span lang="SV"> (Riwayat dari Abi Hurairoh).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Artinya adalah jika kita yakin doa kita dikabulkan, maka Allah pun akan mengabulkan doa tersebut. Sebaliknya, jika seseorang tidak yakin bahwa doanya tidak dikabulkan, maka Allah pun juga tidak mengabulkan doanya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Kedelapan</span></em><span lang="SV">, hendaknya tidak menganggap terlambat datangnya pertolongan Allah. Dalam hal ini, Rasulullah SAW bersabda, <em>“Doa kalian pasti dikabulkan selama kalian tidak tergesa-gesa. Yaitu ia mengatakan, aku sudah berdoa tapi tidak dikabulkan. Ketika engkau berdoa, maka berdoalah yang banyak karena sesungguhnya kalian meminta kepada Tuhan Yang Maha Dermawan.”</em> (HR. Bukhari/Shahih). Bahkan hendaknya ketika doa belum dikabulkan, seorang hamba tetap terus menerus berdoa dengan berulang-ulang (<em>ngengkel</em> dalam bahasa Jawa). Rasulullah SAW ketika berdoa pun juga mengulang-ulang hingga tiga kali. Dalam sebuah haditsnya, beliau bersabda, <em>”Sesungguhnya Allah menyukai orang yang terus mendesak (ngengkel) dalam berdoa.”</em> (HR. Suyuthi/Shahih).</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Kesembilan</span></em><span lang="SV">, doa itu hendaknya diawali dengan memuji asma Allah dan bershalawat kepada Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana hadits:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Doa segala macamnya itu terhijab/terhalang, hingga permulaannya berupa pujian kepada Allah Azza wa Jalla dan shalawat kepada Nabi SAW, kemudian berdoa, maka doa itu diijabahi.”</span></em><span lang="SV"> (HR. Imam Nasa’i).</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Kesepuluh</span></em><span lang="SV">, bertaubat terlebih dahulu dengan beristighfar kepada Allah dan menghentikan kedzaliman serta mengembalikan hasil kedzalimannya kepada pemiliknya. Jangan sampai seseorang berdoa, sementara makanannya makanan haram atau pakaiannya yang berasal dari harta yang haram.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita berusaha memecahkan masalah dengan memohon kepada Allah Ta’ala dalam bentuk berbagai redaksi doa. Dan setelah doa kita baca berulang-ulang, seringkali berbagai masalah tersebut bukannya terpecahkan, malah semakin menjadi-jadi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Bila seseorang menghadapi keadaan seperti ini, sebelum berpikiran negatif yang macam-macam, sebaiknya direnungkan terlebih dahulu rizki yang dia dapatkan. Apakah dari praktek yang halal atau dari praktek yang haram. Sebab Rasululah SAW bersabda,</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Banyak orang yang berambut acak-acakan, berdebu dan ditolak oelh manusia dalam perjalanannya (mungkin karena tirakat atau memang pada posisi sebagai orang tertindas), makanannya sesuatu yang haram, pakaiannya dari rizki yang haram, diberi makan dari sumber yang haram. Dia mengangkat tangannya sambil berdoa: ‘Yaa Robb, Yaa Robb.’ Bagaimana orang seperti ini dikabulkan doanya karena hal yang demikan itu?”</span></em><span lang="SV"> (HR. Muslim).</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">DAPATKAH DOA MERUBAH NASIB?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Nas-nas Al Quran dan sunnah menunukkan bahwa tidak ada satupun kejadian di jagat raya ini yang di luar skenario dan kendali Allah SWT. Dalam hal ini Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">“Dan di sisi-Nya<span> </span>kunci-kunci keghaiban yang tidak ada yang mengetahuinya kecuali Ia (Allah). Dan ia mengetahui apa yang ada di darat, dan di laut. Dan tidaklah daun apa saja yang gugur kecuali Allah mengetahuinya. Dan tidak juga gugur sebuah biji dalam kegelapan bumi, dan tidak pula yang basah atau kering (gugur) kecuali semua itu telah ada dalam kitab yang nyata (Lauhil Mahfudz).”</span></em><span lang="SV"> (QS. Al An’am: 59).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Dalam menafsiri ayat ini, Abdullah bin Abbas RA berkata, <em>”Allah menciptakan tinta dan papan. Maka Allah menuliskan di dalamnya perkara dunia hingga apa yang terakhir dari penciptaan makhluk, rizki yang halal, rizki yang haram , amal yang baik atau kedurhakaan.”</em> (Tafsir Ibnu Katsir/II/168). Dari sini dapat disimpulkan bahwa apapun yang terjadi pada makhluk, baik itu besar atau kecil, sedikit atau banyak, semua telah ditentukan oleh Allah SWT.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kedudukan doa di sini adalah bahwa seseorang berdoa memang bukan bertujuan untuk merubah nasibnya. Karena nasib yang telah ditentukan Allah tidak bisa dirubah oleh siapapun. Bahkan doa itu sendiri juga merupakan bagian dari nasib. Sekali lagi, seseorang yang berdoa seharusnya meniatkan doanya sebagai ketaatan terhadap perintah Allah untuk berdoa. Bukan keinginan yang lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Walaupun demikian, keberadaan sebuah doa bukan berarti kesia-siaan. Sebab, doa juga merupakan tanda-tanda datangnya pertolongan Allah SWT. Sebagaimana adanya mendung di langit, menjadi isyarat akan turun hujan. Atau sebagaimana terbitnya fajar pagi, menjadi isyarat akan terbitnya matahari. Baukankah Allah berjanji akan mengabulkan doa hamba-hambaNya? Sebaliknya, keengganan seseorang untuk berdoa juga merupakan isyarat akan tertutupnya seseorang dari pertolongan Allah SWT. Dan Allah juga berjanji tidak akan mengingkari janji-Nya. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa mereka yang oleh Allah diberikan ilham untuk berdoa, pastilah Allah telah menggariskan untuknya anugerah sebagaimana Allah janjikan. Seperti ungkapan seorang penyair Arab:</span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal"><em><span lang="SV">Andaikan Engkau tidak menghendaki</span><span lang="SV"><br />
Tercapainya apa yang aku harap dan aku cari,</span><span lang="SV"><br />
yaitu anugerah-anugerah dari kedermawanan-Mu<br />
maka engkau tentu tidak mengilhamkan aku untuk<br />
berdoa kepada-Mu.</span></em></p></blockquote>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Ketika Anda berdoa, sebenarnya saat itu anugerah-anugerah Allah sudah disiapkan untuk Anda. Jadi untuk apa berputus asa. Ayo, teruslah berdoa….!! (Zk)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><em><span lang="IN">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 74 | TH.IX | DZULQO&#8217;DAH 1428<br />
aham_wahidiyah@yahoo.com</span></em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/92/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/92/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=92&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/08/27/meraih-kemenangan-dengan-kekuatan-do%e2%80%99a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Makna Filosofis 17</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/08/15/makna-filosofis-17/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/08/15/makna-filosofis-17/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Aug 2008 07:27:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Tahukah Anda?]]></category>
		<category><![CDATA[17 agustus 1945]]></category>
		<category><![CDATA[17 Rhamadan 1366]]></category>
		<category><![CDATA[indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[kemerdekaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/08/15/makna-filosofis-17/</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa ini tidak terasa 63 tahun sudah merdeka, tepatnya tanggal 17 Agustus yang akan datang. Yang menarik ternyata angka 17 kalau kita renungkan memang sangat berarti bagi seluruh bangsa khususnya bagi umat Islam di seluruh Indonesia. Kalau kita telisik sejarah ternyata 17 Agustus 1945 bertepatan pada tanggal 17 Rhamadan 1366 Hijriyah yang bertepatan dengan Nuzulul [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=81&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bangsa ini tidak terasa 63 tahun sudah merdeka, tepatnya tanggal 17 Agustus yang akan datang. Yang menarik ternyata angka 17 kalau kita renungkan memang sangat berarti bagi seluruh bangsa khususnya bagi umat Islam di seluruh Indonesia. Kalau kita telisik sejarah ternyata 17 Agustus 1945 bertepatan pada tanggal 17 Rhamadan 1366 Hijriyah yang bertepatan dengan Nuzulul Qur&#8217;an, dan tidak bisa kita pungkiri banyak para ulama&#8217; yang ikut berjuang untuk merebut kemerdekaan bangsa ini yang sangat konsisten menjaga 17 raka&#8217;at. Maka dengan jujur pencetus UUD 1945 menuliskan didalamnya &#8220;Dan dengan rahmat Allah&#8221;. Jadi kesimpulannya angka 17 memang sangat penting bagi bangsa, khususnya seluruh orang Islam di Indonesia. Amin</p>
<p style="text-align:right;"><em>Dikutip dari Selembaran Shalat Jum&#8217;at AT-TAWAZUN Edisi ke-115</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/81/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/81/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=81&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/08/15/makna-filosofis-17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berat dan Nikmatnya Riyadhoh</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/16/berat-dan-nikmatnya-riyadoh/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/16/berat-dan-nikmatnya-riyadoh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 01:23:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[perjuangan]]></category>
		<category><![CDATA[riyadhoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bhayusenoaji.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Semua bermula ketika seorang yang kujadikan panutan dalam kehidupan kerohanianku berkata:

&#8220;Tak ada orang besar yang tak riyadhoh&#8221;

aku pun mencoba riyadhoh sekuatku sekemampuanku dan alhamdulillah berhasil dalam beberapa hari terakhir ini sampai detik ini dan semoga hingga detik tak terhingga.
Berpuasa disekitar orang yang sedang tidak berpuasa sungguh berat, betapa tidak ketika perutku sedang kosong tiba-tiba aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=16&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;">Semua bermula ketika seorang yang kujadikan panutan dalam kehidupan kerohanianku berkata:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tak ada orang besar yang tak riyadhoh&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:left;">aku pun mencoba riyadhoh sekuatku sekemampuanku dan alhamdulillah berhasil dalam beberapa hari terakhir ini sampai detik ini dan semoga hingga detik tak terhingga.</p>
<p style="text-align:left;">Berpuasa disekitar orang yang sedang tidak berpuasa sungguh berat, betapa tidak ketika perutku sedang kosong tiba-tiba aku melihat orang-orang didepanku memakan sesuatu dari genggamannya, meminum sesuatu dari botol minumannya. Jujur rasa ngiler terkadang muncul tapi ah itu cuma kenikmatan sesaat, batinku memberontak.<span id="more-16"></span></p>
<p style="text-align:left;">Pintaku kepada-Nya sangatlah besar, itulah yang harus aku gapai, melalui riyadhoh aku yakin semua bakal tercapai, apapun itu dan sebesar apapun hal itu. Karena seorang juga pernah bilang &#8220;Jika melalui usaha biasa semuanya tidak bisa tercapai,cobalah riyadhoh, kita to&#8217;k kekuatan batin kita karena kekuatan batin itu memiliki kekuatan yang sagat luar biasa&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">Bersabarlah Bhayu, semua mendukung segala usahamu&#8230;</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=16&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/16/berat-dan-nikmatnya-riyadoh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Adab dalam Shalat</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/adab-dalam-shalat/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/adab-dalam-shalat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 03:43:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[adab]]></category>
		<category><![CDATA[shalat]]></category>
		<category><![CDATA[tata cara]]></category>
		<category><![CDATA[tertib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Begitu pentingnya kedudukan shalat dalam Islam, karena shalat merupakan ibadah yang dihisab pertama di akhirat nanti. Karena itu sebagai Muslim kita harus lebih perhatian terhadap adab-adab shalat kita. Karena, adab merupakan penentu diterima-tidaknya amal perbuatan kita. Adab-adab yang harus diperhatikan dalam mengerjakan shalat, antara lain:

Membersihkan kotoran yang melekat di badan atau istilah lainnya kita harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=11&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Begitu pentingnya kedudukan shalat dalam Islam, karena shalat merupakan ibadah yang dihisab pertama di akhirat nanti. Karena itu sebagai Muslim kita harus lebih perhatian terhadap adab-adab shalat kita. Karena, adab merupakan penentu diterima-tidaknya amal perbuatan kita. Adab-adab yang harus diperhatikan dalam mengerjakan shalat, antara lain:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Membersihkan kotoran yang melekat di badan atau istilah lainnya kita harus suci dari hadats kecil maupun besar. Kemudian menutup aurat, berdiri menghadap kiblat sambil merenggangkan kedua telapak kaki, dan bacalah surat An Naas untuk melindungi diri dari godaan syetan.</li>
<li>Merasa malu untuk bermunajat kepada Allah, karena selama ini hati kita selalu lalai, senantiasa memikirkan urusan dunia, bukan memikirkan urusan akhirat.<span id="more-11"></span></li>
<li>Hadirkan hati, kosongkan dari rasa was-was dan ingat bahwa kita berdiri menghadap Allah guna bermunajat dan mengagungkannya. Sebab, barangsiapa mengerjakan shalat tanpa penyaksian akal, maka berarti ia lalai. Dan barangsiapa mengerjakan shalat tanpa ketundukan jiwa, itu pertanda ia berdosa. Sedangkan siapa yang mengerjakan shalat tanpa ketundukan anggota tubuh, maka ia sia-sia</li>
<li>Apabila semuanya sudah ‘hadir’ siap menghadap Allah, maka angkatlah kedua tangan pada waktu takbir sampai batas kedua pundak dengan kedua telapak tangan terbuka. Jangan merapatkan jari-jari dan jangan merenggangkannya, tetapi biarkan menurut apa adanya sehingga kedua telapak tangan sejajar dengan kedua telinga.</li>
<li>Turunkan kedua tangan perlahan-lahan dan jangan mengebaskannya ke kanan dan ke kiri, yakni setelah selesai bertakbir. Dianjurkan mengakhiri takbir bersama meletakkan kedua tangan.</li>
<li>Letakkanlah tangan kanan di atas tangan kiri dan bentangkan jari-jari tangan kanan sepanjang tangan kiri dan peganglah pergelangan tangan kiri dengan telapak tangan kanan.</li>
<li>Menepati ketentuan-ketentuan imam jika sebagai imam. Dan menepati ketentuan-ketentuan makmum jika sebagai makmum.</li>
<li>Hendaklah di waktu berdiri memandang ke tempat sujud, walaupun menshalati jenazah. Hal ini dilakukan dari awal hingga akhir shalat. Agar lebih menyatukan dan lebih menghadirkan hati.</li>
<li>Jangan menoleh ke kanan atau ke kiri, atau lirik-lirik, karena hal ini dapat membatalkan shalat.</li>
<li>Saat membaca tasyahud, ketika sampai pada bacaan assalaamu ’alaika ayyuhan Nabiyyi wa rahmatullaahi wa barokaatuh. Hadirkan Nabi SAW dalam hati. Sebab, dhomir ka, menurut ilmu Nahwu/Sharaf, pada kalimat assalaamu ‘alaika&#8230; menunjukkan mukhaththab. Artinya, orang yang kita beri salam, jaraknya dekat, atau ada dan berhadapan dengan kita. Yaitu an Nabiy (SAW). Sebagaimana diterangkan dalam sebuah dawuh:<br />
<em>“Dan sebelum kamu mengucapkan: Assalaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullaahi wa barokaatuh, Istidlorkanlah (bayangkanlah/hadirkanlah) beliau (SAW) yang mulia dalam hatimu. Dan yakinlah salam-mu (angan-anganmu, membayangkan Kanjeng Nabi itu) diterima beliau SAW dan dijawab/dibalas dengan yang lebih sempurna.”</em> (Ihya: I/135, Sa’adatud Daroini: 223, Risalah Tanya Jawab Salawat Wahidiyah dan Ajarannya)</li>
<li>Saat membaca tasyahud, disunnahkan membatasi pandangannya pada jari telunjuknya selama terangkat. Bentangkan jari telujuk kanan dengan sedikit memiringkannya agar tidak keluar dari arah kiblat saat mengucapkan kalimat “Illallah”. Hal ini berlangsung terus hingga berdiri dari tasyahud awal, atau salam dalam tasyahud akhir.</li>
<li>Dalam bersujud, supaya benar-benar sempurna. Anggota sujud itu ada tujuh jumlahnya. Yaitu; jari-jari kedua telapak kaki, dua lutut, dua telapak tangan, dan wajah. Ketujuh anggota sujud itu tidak akan tersentuh api neraka apabila didalam sujud benar-benar tepat.</li>
<li>Ketika sujud, letakkanlah kedua lutut terlebih dahulu sebelum meletakkan kedua tangan dalam keadaan terbuka. Kemudian letakkan hidung sejajar dengan dahi. Jauhkanlah kedua siku dari lambung dan angkatlah perut di atas kedua paha, untuk laki-laki. Untuk perempuan, letakkan kedua tangan di atas tempat sujud sejajar dengan pundak.</li>
<li>Letakkan tangan kiri dengan jari-jari terbentang di atas paha kiri dan duduklah di atas kaki yang kiri dalam duduk di antara dua sujud.</li>
<li>Duduklah di atas pantat yang kiri dalam tasyahud akhir dengan meletakkan kaki kiri di luar dari bawah kaki kanan, dan tegakkan telapak kaki kanan. Kemudian setelah selesai membaca tasyahud akhir, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, ucapkan salam.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Demikian beberapa adab dalam shalat, semoga shalat kita lebih meningkat. Baik kualitas maupun kuantitasnya. Sehingga shalat kita benar-benar bisa mencegah perbuatan keji dan munkar. Dan menjadi mi’raajul mu’miniin. Amin. Wallahu a’lam. (Syak)</p>
<p style="text-align:right;">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73 TH.X SYAWAL 1428<br />
aham_wahidiyah@yahoo.com</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=11&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/adab-dalam-shalat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fragmen Sufi AHAM EDISI 73</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/fragmen-sufi-aham-edisi-73/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/fragmen-sufi-aham-edisi-73/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 03:42:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[dosa]]></category>
		<category><![CDATA[fragmen]]></category>
		<category><![CDATA[khusyuk]]></category>
		<category><![CDATA[lapar]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[syahwat]]></category>
		<category><![CDATA[zakariya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[17 DOSA BESAR
Didalam Kitab Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah menukil, bahwa Abu Thalib Al Makki pernah berkata: “Dosa besar itu ada 17. Saya menghimpunnya dari pengabaran. Pertama, empat macam ada di hati: syiirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa, merasa aman dari tipu daya. Kedua, empat macam ada di lidah: kesaksian palsu, menuduh wanita baik-baik, sumpah palsu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=10&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;font-size:100%;">17 DOSA BESAR</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Didalam Kitab <em>Minhajul Qashidin</em>, Ibnu Qudamah menukil, bahwa Abu Thalib Al Makki pernah berkata: “Dosa besar itu ada 17. Saya menghimpunnya dari pengabaran. <em>Pertama, empat macam</em> ada di hati: syiirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa, merasa aman dari tipu daya. <em>Kedua, empat macam</em> ada di lidah: kesaksian palsu, menuduh wanita baik-baik, sumpah palsu dan sihir. <em>Ketiga, tiga macam</em> ada di perut: minum khamer, makan harta anak yatim secara dzalim, dan memakan riba. <em>Keempat, dua macam</em> di kemaluan: zina dan homoseks. <em>Kelima, dua macam</em> ada di tangan: membunuh dan mencuri. <em>Keenam, satu</em> ada di kaki: melarikan diri saat pertempuran. Dan <em>ketujuh, satu</em> macam ada di seluruh badan: durhaka kepada orang tua.”<br />
</span><span id="more-10"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">TIANG, SAYAP, SEBAB, DAN WAKTU DOA</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pada suatu hari, Ibnu Atha pernah memberikan nasihat tentang rahasia doa yang baik. Ia mengatakan, “Doa itu mempunyai <em>tiang, sayap, sebab</em> dan <em>waktu</em>. Jika tiangnya dibangun, doa menjadi kokoh. Jika sayapnya tumbuh, doa akan bias naik ke atas langit. Jika waktunya terpenuhi, doa itu akan menang. Jika sebab-sebabnya dilaksanakan, doa itu akan berhasil dikabulkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Tiang-tiang doa</span></em><span lang="IN"> itu adalah: kensentrasi hati, kelembutan, ketenangan, khusyuk di hadapan Yang Maha Mengetahui yang gaib. <em>Sayap doa</em> itu: tulus dan jujur mengakui segala kesalahan kepada Allah. <em>Waktu doa</em> adalah waktu sahur. <em>Sebab</em> dikabulkannya doa itu adalah<em> shalawat</em> kepada Rasulullah SAW.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">SYAHWAT PALING KUAT</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam sebuah kesempatan, Ibnu Qayyim Al Jauziyah pernah mengatakan, “Saya telah mempelajari seluruh syahwat manusia, dan yang kutemukan kemudian adalah fakta bahwa syahwat paling kuat dalam diri manusia ternyata <em>syahwat kekuasaan</em>. Hanya untuk syahwat ini manusia rela mengorbankan seluruh syahwatnya yang lain. Tapi, hanya kekuasaan juga yang dapat memberi saluran bagi seluruh syahwat manusia.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">PENAMPAKKAN AKHLAK</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Didalam kitab <em>Ta’amulat fi Kitab Madarijus Salikin li Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah</em>, Syekh Shaleh Syadi mengatakan: “Bagaimana suatu akhlak itu menampakkan dirinya? <em>Pertama</em>, apabila engkau berusaha sendiri dengan sungguh-sungguh tanpa merampas harta seseorang atau hak orang lain, maka usahamu itu adil adanya. <em>Kedua</em>, apabila engkau menemui kesulitan dalam berusaha dan dengan bersusah payah memikul beratnya bersikap terhormat dan berlaku adil, maka dengan demikian engkau telah melakukan kesabaran. <em>Ketiga</em>, apabila dalam usahamu ini negkau dihadapkan dengan bahaya-bahaya, kemudian engkau tetap bersikeras untuk menerobosnya, tetapi tidak menemukan jalur yang mudah, maka engkau tergolong orang yang pemberani. Keseluruhannya kembali kepada <em>satu asal</em>, yaitu: merupakan makna adil yang sejalan dengan keutamaan-keutamaan jiwa dan menjadi sumber kebaikan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">KEGELISAHAN NABI ZAKARIYA SAAT BELUM DIKARUNIAI ANAK</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika rambut sudah memutih, istripun sudah tua. Tapi Allah belum juga berkenan memberikan anak kepada Nabi Zakariya. Hingga pada suatu malam beliau berdoa dengan penuh khusyuk. Beliau mengadukan kegelisahannya. “Ya Tuhanku, tulangku sudah melemah dan kepalaku ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap generasiku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku di sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi sebahagian keluarga Ya’kub, dan jadikanlah ia ya Tuhanku seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 4-6).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Pengaduan dan doa yang tulus Nabi Zakariya pun didengar Allah. Dan lahirlah Yahya yang nantinya juga diangkat menjadi nabi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">TIGA SUMBER KHUSYUK</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Khusyuk adalah gabungan dari sikap pengagungan, cinta, perasaan rendah dan kepiluan. Ia bisa terjadi hanya dengan: <em>Pertama</em>, engkau mengawasi cacat-cacat jiwa dan amal perbuatanmu. <em>Kedua</em>, engakau melihat pada kebaikan setiap orang yang memberikan kebaikan kepadamu. Dan <em>ketiga</em>, engkau membersihkan waktu-waktumu dari pamer kepada manusia. Maka dengan mengetahui bahwa kesombongan, ujub, riya, lemahnya kejujuran, sedikitnya keyakinan, serta tidak ikhlasnya beramal, maka akan timbul perasaan hina dan pilu. Jika dibarengi dengan perasaan mengagungkan dan cinta, maka akan membawamu kepada kekhusyukan.” (Kata Syekh Syadi dalam kitab <em>Ta’amulat fi Kitab Madarijus Salikin li Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">10 KEKUATAN LAPAR</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Didalam Kitab Ihya-nya, Imam Al Ghazali mengatakan, “Ada sepuluh kekuatan yang dihasilkan lapar (karena puasa/riyadhah): Pertama, kebersihan hati dan kekuatan pandangan. Kedua, kelembutan hati. Ketiga, rendah hati dan hilangnya kesombongan. Keempat, tidak lupa adzab Allah. Kelima, terbesarnya: menghancurkan hawa nafsu. Keenam, tidak banyak tidur. Ketujuh, meringankan rutinitas ibadah. Kedelapan, kesehatan badan dan jauh dari penyakit. Kesembilan, biaya hidup sedikit. Kesepuluh, memungkinkan shadaqah.”</span></p>
<p><span lang="IN">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73 | TH.X | SYAWAL 1428<br />
aham_wahidiyah@yahoo.com</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=10&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/fragmen-sufi-aham-edisi-73/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEMISKINAN; Masalah Sepele dalam Syariat Islam</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/kemiskinan-masalah-sepele-dalam-syariat-islam/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/kemiskinan-masalah-sepele-dalam-syariat-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 03:40:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[syariat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abdul Fatih Zakaria *
Kemiskinan adalah wajah Indoneisa saat ini. Kemerdekaan Indoneisa yang telah berusia 63 tahun (hingga tahun 2007) ternyata tidak membuat kemiskinan terhapus dari negeri ini. Pilihan para pemimpin Indonesia untuk meminggirkan peran syariah dari kehidupan ternyata membawa bangsa ini ke jurang kemiskinan yang akut. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2006, jumlah masyarakat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=9&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;font-weight:bold;font-style:italic;"><span style="font-size:130%;"><span lang="IN">Oleh: Abdul Fatih Zakaria *</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><img class="alignleft" style="border:1px solid black;margin-left:4px;margin-right:4px;" src="http://i346.photobucket.com/albums/p423/bhayulugu/fakir-miskin.jpg" alt="Kemiskinan" width="250" height="161" /><span lang="IN">Kemiskinan adalah wajah Indoneisa saat ini. Kemerdekaan Indoneisa yang telah berusia 63 tahun (hingga tahun 2007) ternyata tidak membuat kemiskinan terhapus dari negeri ini. Pilihan para pemimpin Indonesia untuk meminggirkan peran syariah dari kehidupan ternyata membawa bangsa ini ke jurang kemiskinan yang akut. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2006, jumlah masyarakat miskin di Indonesia mencapai kurang lebih 49,7%. Ini artinya bahwa kemerdekaan selama 63 tahun saat ini ternyata tidak berhasil mengangkat bangsa ini dari kemiskinan. Padahal apabila pengangkatan kemiskinan ini didasarkan pada syariah, mungkin sejak tahun 1952 atau 2 tahun sejak Belanda angkat kaki dari tanah air, bangsa Indonesia telah terbebas dari kemiskinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Para ulama&#8217; Islam memiliki banyak solusi dalam menanggulangi kemiskinan. Di sana ada zakat. Telah banyak kajian tentang zakat dalam kaitannya dengan pemberantasan kemiskinan. Di antaranya sebuah kitab berharga karya Dr. Yusuf Al Qordhawi yang berjudul <em>Musykilatul Faqr wa Kaifa Yuaalijuhal Islam</em> (Masalah kemiskinan dan bagaimana Islam mengatasinya). Di antara Ulama ada yang menitik beratkan pemberantasan kemiskinan dengan penerapan sistem pemerintahan Islam sebagaimana dilakukan oleh para ikhwan dari berbagai gerakan Islam. Di antara ulama&#8217; ada yang menyoroti pemberantasan kemiskinan dari sisi bina wiraswasta Islam sebagaimana dilakukan oleh Akhina Fillah Dr. Syafi&#8217;i Anronio.</span><span id="more-9"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di sini saya mengajukan sebuah ajaran Islam yang lain yang apabila diterapkan akan dapat menghapus kemiskinan dari Indonesia bahkan dalam waktu kurang dari 5 tahun. Ajaran tersebut sering kali dinamakan <em>At Takafful al Islamiy</em> (Saling menanggung yang Islami). Sudah tentu hal ini bukan berarti masalah zakat, pemerintah atau bimbingan wiraswasta tidak penting. Saya justru berpendapat bahwa semuanya sangatlah penting dan harus diterapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Saya hanya ingin menunjukkan bahwa Islam sangat kaya dengan solusi. Dimana jika salah satu saja dari berbagai solusi tersebut dapat diterapkan, efeknya teramat dahsyat dalam memberantas kemiskinan. Apalagi jika semuanya dilakukan secara terpadu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Takafful al Islamiy</span></em><span lang="IN"> ini adalah bentuk gerakan sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW saat beliau berhijrah ke Madinah. Pada saat itu,beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah dalam keadaan miskin dan kaum Anshar sebagai penduduk asli Madinah yang hidup relatif lebih sejahtera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebagai konsekuensi dari persaudaraan ini adalam timbulnya suasana <em>takafful</em> (saling menanggung) di antara kaum Muhajirin dan Anshar. Allah mengabadikan solidaritas sosial ini dalam firmannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN"><span> </span>“Mereka (kaum Anshar) mencintai mereka yang berhijrah. Mereka (kaum Anshar) tidak menemukan dalam dada mereka rasa membutuhkan<span> </span>terhadap apa yang mereka (kaum Muhajirin) datangkan. Dan mereka (kaum Anshar) lebih mengutamakan keum Muhajirin walaupun mereka sendiri sebenarnya juga membutuhkan.” (QS. Al Hasyr: 9).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam Islam sendiri, <em>takafful</em> ini bukan ajaran yang bersifat sukarela. Bahkan wajib. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tidaklah beriman kepadaku siapa yang tertidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan, padahal ia mengetahui.” (HR. Al Bazzaar dan Ath Thabrani). Dalam sebuah riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ttidaklah orang beriman mereka yang kekenyangan, sementara tetangganya di sebelahnya dalam keadaan lapar.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi/Irsyaadul Ibaad hal. 96).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa solidaritas Islam sangat erat kaitannya dengan iman. Bahwa iman bukan sekedar deretan gelar haji, syaikh, atau ustadz. Iman bukan sekedar ritual dzikir dan wirid yang panjang-panjang. Mereka yang bergelar haji karena melakukan ibadah haji berkali-kali ke Makkah, atau mereka yang sibuk dengan wirid serta dzikirnya ketika tidak memiliki kepekaan sosial, maka keimanan mereka pantas untuk diragukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena itulah, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Kurdi berkata, “Sebagian dari keajaiban syariat atas tiap-tiap orang kaya, setelah ia mencukupi kebutuhan untuk setahun dan memenuhi biaya mereka yang menjadi tanggungannya adalah memberi pakaian orang yang telanjang, memberi makanan mereka yang kelaparan, membebaskan tawanan muslim (dari tangan orang kafir), demikian pula tawanan dari kalangan kafir <em>dzimmi</em> sesuai dengan perinciannya, memperkuat perbatasan, membantu bencana yang terjadi di kalangan kaum muslimin, dan lain-lain. Hal ini menjadi kewajiban orang-orang kaya jika semua hal tersebut tidak dapat dibiayai dengan zakat, nadzar, kaffarat, waqof, wasiat, dan dana kemaslahatan umum dari baitul maal (perbendaharaan negara) karena ketidakadaan dana atau keengganan dan kedzaliman para penguasa. Ketika <span> </span>orang-orang kaya tidak mau melakukan semua ini, maka pemerintah boleh mengambil harta tersebut (dengan paksa) dan menyalurkan kepada pos-pos yang telah ditentukan.” (Bughyatul Mustarsyidiin hal. 253).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Jika apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini serta semangat <em>At Takafful al Islamiy</em> ini diwujudkan secara terkoordinir oleh pemerintah, maka dampaknya dalam penanggulangan kemiskinan sangatlah dahsyat. Konkritnya, pemerintah bisa melibatkan 50,3% bangsa Indonesia yang hidup lebih dari cukup ini untuk mengangkat pada tahun pertama 5% dari masyarakat Indonesia yang masih dalam kemiskinan. Sudah tentu, 5% ini dipilih mereka yang kira-kira bisa untuk berwirausaha. Maksud saya, dengan mengangkat di sini bukan sekedar memberi mereka setumpuk modal. Namun melakukan pembinaan, pelatihan, dan pendampingan yang dipadukan dengan pemberian modal. Sehingga tumbuh kekuatan yang mandiri dari 5% penduduk tersebut. Sehingga dengan demikian, pada satu tahun pertama saja, jumlah kaum miskin telah dikurangi 5% dari 49,7% menjadi 44,7%. Sedangkan jumlah orang kaya bertambah dari<span> </span>50,3% menjadi 55,3%.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selanjutnya, dengan bertambahnya jumlah orang kaya, sudah tentu kemampuan untuk memberantas kemiskinan pun menjadi semakin besar. Maka pada tahun ke-2, kaum kaya yang berjumlah 55,3% ini harus bisa mengangkat paling tidak 10% kaum miskin dan membebaskan mereka dari ketergantungan. Sehingga pada akhir tahun ke-2, jumlah penduduk yang kaya bertambah 10% menjadi 65,3%. Sementara jumlah kaum miskin semakin berkurang menjadi 34,7%. Demikianlah seterusnya. Pada tahun ke-3, dengan jumlah orang kaya yang mencapai 65,3%, maka 15% orang miskin dapat dientaskan. Dan pada tahun ke-4, dengan penerapan sistem tersebut secara berkesinambungan, maka seluruh Indonesia bisa terbebas dari kemiskinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ada satu lagi cara pemecahan kemiskinan di Indonesia. Yaitu penghematan terhadap anggaran negara dari belanja-belanja yang tidak penting. Dalam hal ini, kaidah Ushul Fiqh mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Pengelolaan Imam/penguasa atas rakyat terikat dengan aspek kemaslahatan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Artinya adalah, bahwa segala keputusan Imam atau pemerintah barus berpijak pada<span> </span>asas kemaslahatan/kebaikan. Dan karena itu, dibutuhkan<span> </span>analisa-analisa yang mendalam dalam pengelolaan anggaran pemerintah. Dalam pandangan Islam, seorang penguasa tidak boleh memutuskan dan mengelola harta kaum muslimin berdasarkan atas nafsu pemimpin semata-mata. Karena hal ini merupakan salah satu bentuk kedzaliman terhadap rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika Umar bin Abdul Aziz baru dilantik menjadi khalifah, para pegawai yang mengurus kendaraan kerajaan menyiapkan berbagai kendaraan yang istimewa untuknya. Namun Umar menolak semua fasilitas tersebut karena ia sudah merasa cukup dengan keledainya. Bukan hanya itu saja, Umar malah memerintahkan agar seluruh fasilitas kendaraan dinas kekhalifahan dijual dan uangnya dikembalikan ke Baitul Maal untuk kesejahteraan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena itu, pemerintah semestinya menyusun anggaran yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Sangat tidak adil jika anggota DPR atau segelintir pejabat dan pegawai negeri menikmati sekitar 80 hingga 95% anggaran pemerintah dalam berbagai bentuknya. Seperti tunjangan, gaji rutin, fasilitas kendaraan, fasilitas mebeler bahkan fasilitas rekreasi. Padahal selama sekian tahun mereka menjabat terbukti gagal membawa bangsa ini pada kesejahteraan. Sementara sekian ratus juta rakyat harus berebut 10% dari anggaran pemerintah. Apakah seperti ni yang disebut dengan keadilan dan kemaslahatan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><em><span lang="IN">* Penulis adalah Wong Mblitar</span></em></p>
<p><span lang="IN">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73 | TH.X | SYAWAL 1428<br />
aham_wahidiyah@yahoo.com</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;font-weight:bold;font-style:italic;"><span style="font-size:130%;"><span lang="IN">Oleh: Abul Fatih Zakaria *</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kemiskinan adalah wajah Indoneisa saat ini. Kemerdekaan Indoneisa yang telah berusia 63 tahun (hingga tahun 2007) ternyata tidak membuat kemiskinan terhapus dari negeri ini. Pilihan para pemimpin Indonesia untuk meminggirkan peran syariah dari kehidupan ternyata membawa bangsa ini ke jurang kemiskinan yang akut. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2006, jumlah masyarakat miskin di Indonesia mencapai kurang lebih 49,7%. Ini artinya bahwa kemerdekaan selama 63 tahun saat ini ternyata tidak berhasil mengangkat bangsa ini dari kemiskinan. Padahal apabila pengangkatan kemiskinan ini didasarkan pada syariah, mungkin sejak tahun 1952 atau 2 tahun sejak Belanda angkat kaki dari tanah air, bangsa Indonesia telah terbebas dari kemiskinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Para ulama&#8217; Islam memiliki banyak solusi dalam menanggulangi kemiskinan. Di sana ada zakat. Telah banyak kajian tentang zakat dalam kaitannya dengan pemberantasan kemiskinan. Di antaranya sebuah kitab berharga karya Dr. Yusuf Al Qordhawi yang berjudul <em>Musykilatul Faqr wa Kaifa Yuaalijuhal Islam</em> (Masalah kemiskinan dan bagaimana Islam mengatasinya). Di antara Ulama ada yang menitik beratkan pemberantasan kemiskinan dengan penerapan sistem pemerintahan Islam sebagaimana dilakukan oleh para ikhwan dari berbagai gerakan Islam. Di antara ulama&#8217; ada yang menyoroti pemberantasan kemiskinan dari sisi bina wiraswasta Islam sebagaimana dilakukan oleh Akhina Fillah Dr. Syafi&#8217;i Anronio.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di sini saya mengajukan sebuah ajaran Islam yang lain yang apabila diterapkan akan dapat menghapus kemiskinan dari Indonesia bahkan dalam waktu kurang dari 5 tahun. Ajaran tersebut sering kali dinamakan <em>At Takafful al Islamiy</em> (Saling menanggung yang Islami). Sudah tentu hal ini bukan berarti masalah zakat, pemerintah atau bimbingan wiraswasta tidak penting. Saya justru berpendapat bahwa semuanya sangatlah penting dan harus diterapkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Saya hanya ingin menunjukkan bahwa Islam sangat kaya dengan solusi. Dimana jika salah satu saja dari berbagai solusi tersebut dapat diterapkan, efeknya teramat dahsyat dalam memberantas kemiskinan. Apalagi jika semuanya dilakukan secara terpadu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">Takafful al Islamiy</span></em><span lang="IN"> ini adalah bentuk gerakan sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah SAW saat beliau berhijrah ke Madinah. Pada saat itu,beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin yang berhijrah dari Makkah ke Madinah dalam keadaan miskin dan kaum Anshar sebagai penduduk asli Madinah yang hidup relatif lebih sejahtera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Sebagai konsekuensi dari persaudaraan ini adalam timbulnya suasana <em>takafful</em> (saling menanggung) di antara kaum Muhajirin dan Anshar. Allah mengabadikan solidaritas sosial ini dalam firmannya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN"><span> </span>“Mereka (kaum Anshar) mencintai mereka yang berhijrah. Mereka (kaum Anshar) tidak menemukan dalam dada mereka rasa membutuhkan<span> </span>terhadap apa yang mereka (kaum Muhajirin) datangkan. Dan mereka (kaum Anshar) lebih mengutamakan keum Muhajirin walaupun mereka sendiri sebenarnya juga membutuhkan.” (QS. Al Hasyr: 9).</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam Islam sendiri, <em>takafful</em> ini bukan ajaran yang bersifat sukarela. Bahkan wajib. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Tidaklah beriman kepadaku siapa yang tertidur dalam keadaan kenyang sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan, padahal ia mengetahui.” (HR. Al Bazzaar dan Ath Thabrani). Dalam sebuah riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Ttidaklah orang beriman mereka yang kekenyangan, sementara tetangganya di sebelahnya dalam keadaan lapar.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi/Irsyaadul Ibaad hal. 96).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa solidaritas Islam sangat erat kaitannya dengan iman. Bahwa iman bukan sekedar deretan gelar haji, syaikh, atau ustadz. Iman bukan sekedar ritual dzikir dan wirid yang panjang-panjang. Mereka yang bergelar haji karena melakukan ibadah haji berkali-kali ke Makkah, atau mereka yang sibuk dengan wirid serta dzikirnya ketika tidak memiliki kepekaan sosial, maka keimanan mereka pantas untuk diragukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena itulah, Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Kurdi berkata, “Sebagian dari keajaiban syariat atas tiap-tiap orang kaya, setelah ia mencukupi kebutuhan untuk setahun dan memenuhi biaya mereka yang menjadi tanggungannya adalah memberi pakaian orang yang telanjang, memberi makanan mereka yang kelaparan, membebaskan tawanan muslim (dari tangan orang kafir), demikian pula tawanan dari kalangan kafir <em>dzimmi</em> sesuai dengan perinciannya, memperkuat perbatasan, membantu bencana yang terjadi di kalangan kaum muslimin, dan lain-lain. Hal ini menjadi kewajiban orang-orang kaya jika semua hal tersebut tidak dapat dibiayai dengan zakat, nadzar, kaffarat, waqof, wasiat, dan dana kemaslahatan umum dari baitul maal (perbendaharaan negara) karena ketidakadaan dana atau keengganan dan kedzaliman para penguasa. Ketika <span> </span>orang-orang kaya tidak mau melakukan semua ini, maka pemerintah boleh mengambil harta tersebut (dengan paksa) dan menyalurkan kepada pos-pos yang telah ditentukan.” (Bughyatul Mustarsyidiin hal. 253).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Jika apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ini serta semangat <em>At Takafful al Islamiy</em> ini diwujudkan secara terkoordinir oleh pemerintah, maka dampaknya dalam penanggulangan kemiskinan sangatlah dahsyat. Konkritnya, pemerintah bisa melibatkan 50,3% bangsa Indonesia yang hidup lebih dari cukup ini untuk mengangkat pada tahun pertama 5% dari masyarakat Indonesia yang masih dalam kemiskinan. Sudah tentu, 5% ini dipilih mereka yang kira-kira bisa untuk berwirausaha. Maksud saya, dengan mengangkat di sini bukan sekedar memberi mereka setumpuk modal. Namun melakukan pembinaan, pelatihan, dan pendampingan yang dipadukan dengan pemberian modal. Sehingga tumbuh kekuatan yang mandiri dari 5% penduduk tersebut. Sehingga dengan demikian, pada satu tahun pertama saja, jumlah kaum miskin telah dikurangi 5% dari 49,7% menjadi 44,7%. Sedangkan jumlah orang kaya bertambah dari<span> </span>50,3% menjadi 55,3%.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Selanjutnya, dengan bertambahnya jumlah orang kaya, sudah tentu kemampuan untuk memberantas kemiskinan pun menjadi semakin besar. Maka pada tahun ke-2, kaum kaya yang berjumlah 55,3% ini harus bisa mengangkat paling tidak 10% kaum miskin dan membebaskan mereka dari ketergantungan. Sehingga pada akhir tahun ke-2, jumlah penduduk yang kaya bertambah 10% menjadi 65,3%. Sementara jumlah kaum miskin semakin berkurang menjadi 34,7%. Demikianlah seterusnya. Pada tahun ke-3, dengan jumlah orang kaya yang mencapai 65,3%, maka 15% orang miskin dapat dientaskan. Dan pada tahun ke-4, dengan penerapan sistem tersebut secara berkesinambungan, maka seluruh Indonesia bisa terbebas dari kemiskinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ada satu lagi cara pemecahan kemiskinan di Indonesia. Yaitu penghematan terhadap anggaran negara dari belanja-belanja yang tidak penting. Dalam hal ini, kaidah Ushul Fiqh mengatakan:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><span> </span>“Pengelolaan Imam/penguasa atas rakyat terikat dengan aspek kemaslahatan.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Artinya adalah, bahwa segala keputusan Imam atau pemerintah barus berpijak pada<span> </span>asas kemaslahatan/kebaikan. Dan karena itu, dibutuhkan<span> </span>analisa-analisa yang mendalam dalam pengelolaan anggaran pemerintah. Dalam pandangan Islam, seorang penguasa tidak boleh memutuskan dan mengelola harta kaum muslimin berdasarkan atas nafsu pemimpin semata-mata. Karena hal ini merupakan salah satu bentuk kedzaliman terhadap rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ketika Umar bin Abdul Aziz baru dilantik menjadi khalifah, para pegawai yang mengurus kendaraan kerajaan menyiapkan berbagai kendaraan yang istimewa untuknya. Namun Umar menolak semua fasilitas tersebut karena ia sudah merasa cukup dengan keledainya. Bukan hanya itu saja, Umar malah memerintahkan agar seluruh fasilitas kendaraan dinas kekhalifahan dijual dan uangnya dikembalikan ke Baitul Maal untuk kesejahteraan rakyat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena itu, pemerintah semestinya menyusun anggaran yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Sangat tidak adil jika anggota DPR atau segelintir pejabat dan pegawai negeri menikmati sekitar 80 hingga 95% anggaran pemerintah dalam berbagai bentuknya. Seperti tunjangan, gaji rutin, fasilitas kendaraan, fasilitas mebeler bahkan fasilitas rekreasi. Padahal selama sekian tahun mereka menjabat terbukti gagal membawa bangsa ini pada kesejahteraan. Sementara sekian ratus juta rakyat harus berebut 10% dari anggaran pemerintah. Apakah seperti ni yang disebut dengan keadilan dan kemaslahatan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><em><span lang="IN">* Penulis adalah Wong Mblitar</span></em></p>
<p style="text-align:right;"><span lang="IN">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73 | TH.X | SYAWAL 1428<br />
aham_wahidiyah@yahoo.com</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=9&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/kemiskinan-masalah-sepele-dalam-syariat-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i346.photobucket.com/albums/p423/bhayulugu/fakir-miskin.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kemiskinan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syekh Bisyr bin Harits RA, Kekasih Allah yang Berkaki Telanjang</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/syekh-bisyr-bin-harits-ra-kekasih-allah-yang-berkaki-telanjang/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/syekh-bisyr-bin-harits-ra-kekasih-allah-yang-berkaki-telanjang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 03:39:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[berkaki telanjang]]></category>
		<category><![CDATA[kekasih Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh Bisyr bin Harits RA]]></category>
		<category><![CDATA[wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Nama lengkapnya Abu Bisyr bin Al Harits Al Hafi. Beliau lahir sekitar tahun 150 H/767 M di dekat Kota Merv. Belajar hadits di Baghdad dan menetap di sana. Di usia muda, beliau terkenal sebagai pemuda berandal dan suka mabuk-mabukan. Namun setelah sadar, pendidikan formal yang sedang ditekuninya, juga kehidupan malam yang suram ditinggalkannya. Beliau lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=8&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Nama lengkapnya Abu Bisyr bin Al Harits Al Hafi. Beliau lahir sekitar tahun 150 H/767 M di dekat Kota Merv. Belajar hadits di Baghdad dan menetap di sana. Di usia muda, beliau terkenal sebagai pemuda berandal dan suka mabuk-mabukan. Namun setelah sadar, pendidikan formal yang sedang ditekuninya, juga kehidupan malam yang suram ditinggalkannya. Beliau lalu mengasah ruhaninya dengan disiplin diri yang kuat. Hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan, dan bertelanjang kaki.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Bagaimana jalan hidup Bisyr, manusia berkaki telanjang yang sangat dikagumi Imam Ahmad bin Hambal dan dihormati oleh Khalifah Al Makmun? Inilah kisahnya.</span><span id="more-8"></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">TAUBATNYA MANUSIA BERKAKI TELANJANG</span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Syekh Bisyr muda adalah seorang pemuda berandalan. Hampir tiap malam waktunya dihabiskan di Bar dan menenggak minuman keras sampai mabuk. Suatu hari, dalam keadaan mabuk dan langkah terhuyung-huyung ia menemukan secarik kertas bertuliskan “Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. Bisyr lalu memberi minyak mawar dan memerciki kertas tersebut dengan minyak lalu menyimpannya dengan hati-hati di rumahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Malam harinya, seorang spiritualis bermimpi. Dalam mimpinya ia diperintahkan Allah untuk mengatakan kepada Bisyr, “Engkau telah mengharumkan nama-Ku, maka Akupun telah mengharumkan dirimu. Engkau telah memuliakan nama-Ku, maka Akupun telah memuliakan dirimu. Engkau telah mensucikan dirimu. Demi kebesaran-Ku, niscaya Kuharumkan namamu, baik di dunia maupun di akhirat.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Bisyr adalah seorang pemuda berandal,” pikir sang spiritualis</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Mungkin aku telah bermimpi salah.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Oleh karena itu, sang spiritualis segera bersuci, shalat, kemudian tidul kembali. Namun tetap saja mimpi serupa hadir lagi. Hal itu berulang sampai tiga kali. Keesokan harinya ia maencari Bisyr. Ia bertanya pada seseorang dan mendapat jawaban, “Bisyr sedang mengunjungi pesta buah anggur.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Maka pergilah sang spiritualis yang dikenal sebagai manusia suci di daerahnya itu ke rumah orang yang sedang berpesta itu. Sesampai di sana ia bertanya, “Apakah Bisyr berada di tempat ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Ada, tetapi ia dalam keadaan mabuk dan lemah tak berdaya.”<br />
“Katakan kepada Bisyr, bahwa ada pesan yang hendak kusampaikan padanya,” kata manusia suci itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Pesan dari siapa,” tanya Bisyr.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Dari Allah!” Jawab si manusia suci.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Aduhai!” Seru Bisyr dengan air mata berlinang.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Apakah pesan untuk mencela atau menghukum diriku? Tapi tunggu sebentar, aku akan pamit kepada sahabat-sahabatku dahulu.”<br />
“Sahabat-sahabat, aku dipanggil. Oleh karena itu, aku harus meninggalkan tempat ini. Selamat tinggal! Kalian tidak akan pernah melihat diriku lagi dalam keadaan seperti ini!” Ia berkata kepada teman-teman minumnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Sejak saat itu, tingkah laku Bisyr berubah seratus delapan puluh derajat. Pemuda berandalan itu menjadi demikian alim, shalih dan wara’. Sehingga tak seorangpun yang mendengar namanya tanpa kedamaian Ilahi menyentuh hatinya. Bisyr telah menempuh jalan penyangkalan diri. Sedemikian asyiknya ia bertawajuh ke hadirat Allah hingga mulai saat itu ia tak pernah lagi memakai alas kaki. Itulah sebabnya Bisyr mendapat julukan “Manusia Berkaki Telanjang”.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Bila ditanya, “Bisyr, mengapa engkau tak pernah memakai alas kaki?” Jawabnya adalah, “Ketika aku berdamai dengan Allah, aku sedang berkaki telanjang. Sejak saat itu aku malu mengenakan alas kaki. Apalagi, bukankah Allah Yang Maha Besar telah berkata, “Telah Kuciptakan bumi sebagai permadani untukmu. Dan bukankah tidak pantas apabila berjalan memakai sepatu di atas permadani Raja?”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Konon Imam Ahmad bin Hambal sering mengunjungi Bisyr. Sang Imam begitu mempercayai kata-kata Bisyr. Hal itu menyebabkan murid-muridnya tidak senang hingga pernah mencela tindakan gurunya.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Wahai guru, di zaman ini tak seorangpun yang dapat menandingimu dibidang hadits, hukum, teologi, dan setiap cabang ilmu pengetahuan. Tapi mengapa setiap saat engkau menemani seorang berandal? Pantaskah perbuatanmu itu?”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Mengenai setiap bidang yang kalian sebutkan tadi, aku memang lebih ahli daripada Bisyr.” Jawab sang Imam.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“tetapi mengenai Allah, ia lebih ahli daripada aku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Ahmad bin Hambal sering memohon kepada Bisyr, “Ceritakan kepadaku perihal Tuhanku.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">SI MISKIN YANG EMPATI KEPADA ORANG MISKIN</span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Dikisahkan, selama 40 tahun Bisyr sangat menginginkan daging panggang, tetapi ia tidak mempunyai uang untuk membelinya. Bertahun-tahun ia ingin memakan kacang buncis, tetapi tak sedikitpun ada yang dimakannya. Padahal, kalu Bisyr mau, sebagai orang yang selalu menghadap kepada Allah, dia tinggal memohon kepada Allah apa yang diinginkannya. Tapi dia tidak mau melakukannya. Jalan hidup penyangkalan dirinya yang begitu kuat membuat dia juga berpantang meminum air dari saluran yang ada pemiliknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Empatinya kepada kaum fakir miskin begitu luar biasa. Pernah salah seorang tokoh suci sedang bersama Bisyr dalam suasana cuaca yang sangat dingin sekali. Semua orang mengenakan jaket tebal. Tetapi Bisyr malah melepas pakaiannya sehingga tubuhnya menggigil kedinginan.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Abu Nashr,” tegur orang suci. “Dalam cuaca dingin seperti ini orang-orang melapisi pakaian mereka, tetapi engkau malah melepaskannya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Aku teringat kepada orang-orang miskin,” jawab Bisyr. “Aku tidak mempunyai uang untuk menolong mereka, oleh karena itulah aku ingin turut merasakan penderitaan mereka.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">TAWAKAL TIADA TARA</span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Syekh Bisyr bin Harits adalah orang yang menggantungkan hidupnya kepada Allah semata. Tawakalnya sungguh luar biasa. Hal ini dapat kita temui dalam kisah berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Beberapa orang mengunjungi Bisyr dan berkata, “Kami datang dari Syiria hendak pergi menunaikan ibadah haji. Sudikah engkau menyertai kami?”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Dengan tiga syarat,” jawab Bisyr. “Yang <em>pertama</em>, kita tidak akan membawa perbekalan. <em>Kedua</em>, kita tidak meminta belas kasihan orang di dalam perjalanan. Dan <em>ketiga</em>, jika orang-orang memberikan sesuatu, kita tidak boleh menerimanya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Pergi tanpa perbekalan dan tidak meminta-minta dalam perjalanan, dapat kami terima,” jawab mereka. “Tetapi apabila orang-orang lain memberikan sesuatu, mengapa kita tidak boleh menerimanya?”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Sebenarnya kalian tidak memasrahkan diri kepada Allah, tetapi kepada perbekalan yang kalian bawa,” cela Bisyr kepada mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Suatu hari orang-orang berkumpul mendengarkan Bisyr memberikan ceramah mengenai rasa puas. Salah seorang di antara pendengar mencela:</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Abu Nashr! Engkau tidak mau menerima pemberian orang karena ingin dimuliakan. Jika engkau benar-benar melakukan penyangkalan diri dan memalingkan wajahmu dari dunia ini, maka terimalah sumbangan-sumbangan yang diberikan kepadamu agar engkau tidak lagi dipandang sebagai orang yang mulia. Kemudian secara sembunyi, berikanlah semua itu kepada orang-orang miskin. Setelah itu, jangan engkau goyah dalam kepasrahan kepada Allah, dan terimalah nafkahmu dari alam ghaib.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Murid-murid Bisyr sangat terkesan mendengar kata-kata ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Camkanlah oleh kalian!” Jawab Bisyr. “Orang-orang miskin terbagi atas tiga golongan. Golongan <em>pertama</em> adalah orang-orang miskin yang tak pernah meminta-minta dan apabila mereka diberikan sesuatu mereka menolaknya. Orang-orang seperti ini adalah para spiritualis. Seandainya orang-orang seperti ini meminta kepada Allah, niscaya Allah akan mengabulkan segala permintaan mereka. Golongan <em>kedua</em> adalah orang-orang miskin yang tak pernah meminta-minta, tetapi apabila kepada mereka diberikan sesuatu, mereka masih mau menerimanya. Mereka ini berada ditengah-tengah. Mereka adalah orang-orang yang teguh didalam kepasrahan kepada Allah. Mereka inilah yang akan dijamu oleh Allah di dalam syurga. Golongan <em>ketiga</em> adalah orang-orang miskin yang duduk dengan sabar menantikan pemberian orang sesuai dengan kesanggupan, tetapi mereka menolak godaa-godaan hawa nafsu.”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Aku puas dengan keteranganmu tersebut,” kata orang yang tadi mencela.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Semoga Allah juga puas denganmu!”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify">
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN"><span style="font-weight:bold;">WAFATNYA MANUSIA BERKAKI TELANJANG</span></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Suatu malam, ketika Bisyr sedang terbaring manantikan ajalnya di tahun 227 H/841 M, tiba-tiba datang seseorang dan mengeluh tentang nasibnya yang malang. Bisyr melepaskan dan memberikan pakaiannya kepada lelaki itu. Dia sendiri lalu memakai baju yang dipinjamnya dari salah seorang sahabatnya. Dengan mengenakan pakaian pinjaman itulah, kekasih Allah ini berpindah ke alam baqa’.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Di tempat lain, seorang lelaki melihat keledai yang dibawanya membuang kotoran di atas jalan. Padahal selama Bisyr masih hidup, tak ada keledai yang membuang kotorannya di jalan-jalan Kota Baghdad karena menghormati Bisyr yang berjalan dengan kaki telanjang. Melihat kenyataan tersebut, spontan lelaki itu berseru:</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Wahai, Bisyr telah tiada!”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">Mendengar seruan itu, orang-orangpun pergi menyelidiki. Ternyata kata-katanya itu terbukti kebenarannya. Lalu kepadanya ditanyakan bagaimana ia bisa tahu bahwa Bisyr telah meninggal dunia?</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span lang="IN">“Karena selama Bisyr masih hidup, tak pernah ada kotoran keledai terlihat di jalan-jalan Kota Baghdad. Tadi aku melihat kenyataan itu telah berubah, maka tahulah aku bahwa Bisyr telah tiada.” <em>Allahu a’lam. (Var)</em>.</span></p>
<p style="text-align:right;"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73  TH.X  SYAWAL 1428<br />
</span><span style="font-size:100%;" lang="IN">aham_wahidiyah@yahoo.com</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=8&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/09/syekh-bisyr-bin-harits-ra-kekasih-allah-yang-berkaki-telanjang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kaum Munafik; Selalu Plin-plan dan Bingung</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/kaum-munafik-selalu-plin-plan-dan-bingung/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/kaum-munafik-selalu-plin-plan-dan-bingung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 11:06:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[kaum munafik]]></category>
		<category><![CDATA[plin-plan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.com/?p=4</guid>
		<description><![CDATA[“Dan ketika dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah sebagaimana manusia-manusia beriman’, mereka berkata: ‘apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh beriman’. Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu sendirilah yang bodoh. Tetapi mereka tidak mengetahui. Dan ketika mereka bertemu dengan orang beriman, mereka akan mengatakan: ‘Kami beriman’. Dan ketika mereka menyendiri kepada pimpinan-pimpinan mereka, maka mereka (kaum munafik) berkata: ‘Sesungguhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=7&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:100%;"><em><span lang="IN">“Dan ketika dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah sebagaimana manusia-manusia beriman’, mereka berkata: ‘apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh beriman’. Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu sendirilah yang bodoh. Tetapi mereka tidak mengetahui. Dan ketika mereka bertemu dengan orang beriman, mereka akan mengatakan: ‘Kami beriman’. Dan ketika mereka menyendiri kepada pimpinan-pimpinan mereka, maka mereka (kaum munafik) berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanya bersendagurau saja (dengan pernyataan iman)’. Allah menjadikan mereka gurauan dan membiarkan mereka kebingungan dalam kedzaliman mereka.”</span></em><em><span lang="IN"><br />
</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><span style="font-size:100%;"><em><span lang="IN">(QS. Al Baqarah: 12-15)</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Diantara sifat kaum munafik adalah bahwa mereka ini memiliki rasa rendah diri terhadap Islam. Hal ini karena pada masa Rasulullah SAW, sebagian besar kaum muslimin adalah lapisan bawah masyarakat. Mereka ini ada yang berasal dari kalangan budak, fakir miskin, dan kelompok masyarakat yang teroinggirkan dalam sistem masyarakat jahiliyyah. Dan mayoritas mereka ini adalah kaum yang tidak terpelajar. Bahkan banyak sekali di antara mereka yang tidak mengenal baca tulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Sementara mayoritas penentang Islam adalah masyarakat yang relatif lebih sejahtera. Di Makkah mereka terdiri dari kaum bangsawan Quraisy. Di Madinah mereka ini adalah kalangan Yahudi. Kedua kelompok masyarakat tersebut relatif lebih sejahtera dan terpelajar. Rata-rata mereka ini mengenal budaya tulis-menulis yang pada saat itu menjadi simbol ketinggian status ilmiah. Dan jika seseorang mengarahkan pandangan ke luar Jazirah Arab, maka ia akan bisa segera melihat bahwa di sana ada bangsa Romawi yang beragama Nasrani dan kerajaan Persia yang beragama Majusi. Kedua bangsa ini terkenal dengan ketinggian peradabannya. Karena itulah, setiap kali kaum munafik diajak agar ber-Islam secara <em>kaffah</em> (total), maka mereka akan mengatakan (baik secara terang-terangan atau tersembunyi) bahwa Islam adalah agama orang-orang bodoh. Karena itulah, mereka lebih suka dengan akidah kaum yang mereka anggap sebagai masyarakat maju.</span><span id="more-7"></span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Mental seperti ini saat ini banyak kita jumpai dalam masyarakat kita. Mereka ini lebih suka dengan gaya hidup Yahudi/Nasrani. Mereka membebek segala hal yang berasal dari barat, mulai masalah yang paling sepele seperti penampilan, hingga masalah yang paling prinsip seperti dalam hal pandangan hidup. Ketika mereka ini disodori ajakan agar ber-Islam secara <em>kaffah</em>, maka mereka ini akan menolak. Mereka ini takut akan mendapat sebutan-sebutan negatif yang dimunculkan oleh kaum Salib/Yahudi Eropa. Misalnya disebut sebagai teroris, fundamentalis, konservatif, dan sebutan-sebutan lain yang bermakna pelecehan. Seolah-olah mereka ini mengucapkan (walaupun secara perilaku): “Haruskah kami beriman sebagaimana orang-orang bodoh beriman?”</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Padahal sebenarnya apa yang saat ini disebut sebagai kemajuan dan intelektualitas sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Apa yang saat ini didengung-dengungkan berbagai kelompok yang anti terhadap Islam, berupa slogan-slogan demokrasi, kebebasan, kesetaraan gender, pluralisme, dan sebutan-sebutan manis lainnya, sebenarnya adalah penamaan-penamaan baru dari cara hidup Jahiliyyah yang sudah ada sejak zaman purba. Dan kedatangan para Nabi dan Rasul sepanjang sejarah manusia dari berbagai pola hidup yang sekarang ini diangkat kembali dengan istilah-istilah yang manis. Hal ini karena ketika berbagai pola hidup tersebut diterapkan, yang muncul bukan kebahagiaan manusia. Namun berbagai bentuk penindasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Dalam ayat di atas ada kata <em>sufahaa’</em> (jama’ dari <em>safih</em>). Kata ini sebenarnya tidak sama dengan <em>jahil</em> (bodoh). Makna <em>safih</em> ini lebih rendah lagi, yaitu idiot atau keterbelakangan mental. Dari ayat di atas nampak sekali standar-standar peringkat <em>al alim</em> (orang yang berilmu). Kalau kita merujuk pada ayat di atas, kita akan melihat bahwa standar-standar akademik tidaklah menjadi syarat seseorang yang dikatakan sebagai <em>alim</em>. Standar pertama tingkat kealiman seseorang adalah penerimaan yang total dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW. Sehingga walaupun seseorang itu, katakanlah tidak sekolah, ketika ia memiliki keimanan yang sempurna, maka manusia tersebut di sisi Allah disebut <em>al alim</em>. Sebaliknya, ketika seseorang itu memiliki latar belakang akademis yang baik, ketika orang tersebut tidak beriman secara total/munafik, maka orang tersebut disisi Allah diberi gelar <em>idiot</em> atau cacat mental.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Pada rangkaian ayat di atas, kita juga dapat melihat watak-watak lain dari kaum munafik. Yaitu sikap plin-plan sepanjang hidup mereka. Ketika mereka bertemu dengan kaum beriman, mereka ikut-ikutan meneriakkan dan mengucapkan ungkapan-ungkapan keimanan. Seolah-olah mereka adalah bagian dari komunitas kaum beriman. Mungkin hal ini mereka lakukan karena mereka takut terkucil atau takut kepentingan duniawi mereka terganggu.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Sebaliknya, ketika mereka bertemu dengan musuh-musuh Islam, mereka secara diam-diam atau terang-terangan menyatakan kepemihakan kepada musuh-musuh Islam tersebut. Mereka membuat seribu satu alasan bahwa mereka bukan bagian dari kaum mukminin. Bisa jadi karena alasan terpaksa, atau karena tekanan lingkungan, atau karena mengamankan kepentingan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Manusia model seperti ini sangat berbahaya bagi kaum muslimin. Sebab, keberadaan mereka susah untuk dikenali. Sementara akibat dari gerakan mereka dapat menimbulkan kehancuran yang jauh lebih dahsyat daripada kehancuran akibat perang. Inilah yang pada awal tahun 1900-an terjadi di Turki. Saat Mustafa Kemal memimpin perang bangsa Turki melawan sekutu di perang dunia I, dengan tidak malu-malu ia memperalat agama. Takbir dikumandangkan. Ulama’-ulama’ dimobilisasi untuk memberikan fatwa jihad dan doa bagi pasukan perang. Hingga kemudian ia berhasil mengerahkan kaum muslimin dalam jumlah besar untuk mengusir tentara sekutu dari Turki.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Namun ketika kemudian tentara sekutu terusir dari Turki, Mustafa Kemal memainkan babak baru dalam sejarah hidupnya. Yaitu perang terhadap Islam. Ia bubarkan khilafah yang saat itu berpusat di Istambul Turki. Kemudian ia proklamirkan bahwa negara tidak ada hubungan sama sekali dengan Islam. Disusul kemudian dengan pembaratan bangsa Turki yang dilakukan dengan tangan besi. Itupun masih belum cukup. Ia mengharamkan semua yang berbau Arab, seperti bahasa Arab atau tulisan Arab bagi masyarakat Turki. Bahkan hingga shalat dan adzan pun harus dalam bahasa Turki.</span></p>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Di era kita saat ini, manusia-manusia plin-plan seperti ini banyak sekali kita temui. Baik itu dalam bentuk kelompok atau individu-individu. Ketika pemilu misalnya, betapa banyak manusia-manusia yang tampil seolah-olah santri dan loyal dengan Islam jika berada dalam komunitas santri atau komunitas Islam. Namun ketika ia berada di komunitas non Islam atau non santri, maka dengan mudah simbol-simbol ke-Islaman yang selama ini dipakainya ia campakkan. Sudah tentu manusia-manusia model seperti ini sangat berbahaya bagi siapa pun. Dalam tingkatan keluarga saja, keberadaan manusia seperti ini sangat berbahaya. Apalagi jika ia memimpin sebuah masyarakat atau terlebih lagi memimpin sebuah negara.</span></p>
<p><span lang="IN">Pada rangkaian ayat di atas dijelaskan, bahwa kaum munafik selalu dalam kebingungan dan kedzaliman. Mereka bingung karena setiap saat harus menempatkan diri dalam lingkungan yang berubah-rubah. Mereka merasa harus bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda-beda tersebut. Di samping itu mereka juga bingung dengan pilihan-pilihan sulit dalam kehidupan mereka. Di satu sisi mereka mengakui kebenaran Islam. Namun di sisi lain mereka takut kehilangan eksistensi di muka musuh-musuh Islam. Di satu sisi mereka ingin tergolong ke dalam kelompok kaum beriman masuk surga. Namun di sisi lain mereka tidak mau kehilangan kenikmatan dan kelezatan dunia. Yaah&#8230; demikianlah kaum munafik. Plin-plan, dan bingung. Siapa mau jadi orang munafik? <em>Na’udzu billah! (Zaka)</em></span></p>
<div style="text-align:right;"><span style="font-size:100%;" lang="IN">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73  TH.X  SYAWAL 1428<br />
</span><span style="font-size:100%;" lang="IN">aham_wahidiyah@yahoo.com</span><span style="font-size:100%;"><br />
</span></div>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=7&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/kaum-munafik-selalu-plin-plan-dan-bingung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru Ruhani Penerus Nabi, Pelita Menuju Ilahi</title>
		<link>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/guru-ruhani-penerus-nabi-pelita-menuju-ilahi/</link>
		<comments>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/guru-ruhani-penerus-nabi-pelita-menuju-ilahi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 11:02:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bhayu Senoaji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[al ghauts]]></category>
		<category><![CDATA[guru ruhani]]></category>
		<category><![CDATA[sulthonul aulia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bhayusenoaji.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu doktrin dari peradaban modern ala barat adalah bahwa tujuan manusia adalah pemenuhan kebutuhan materi semata-mata. Ketika materi terpenuhi, maka pada saat itulah manusia menemukan kebahagiaan hidupnya. Sebaliknya, menurut cara berpikir materialis ini, ketika manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan yang bersifat meteri ini, maka pada saat itulah menusia hidup dalam penderitaan. Sementara urusan keruhanian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=6&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Salah satu doktrin dari peradaban modern ala barat adalah bahwa tujuan manusia adalah pemenuhan kebutuhan materi semata-mata. Ketika materi terpenuhi, maka pada saat itulah manusia menemukan kebahagiaan hidupnya. Sebaliknya, menurut cara berpikir materialis ini, ketika manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan yang bersifat meteri ini, maka pada saat itulah menusia hidup dalam penderitaan. Sementara urusan keruhanian sama sekali tidak termasuk dalam bagian yang menentukan kebahagiaan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena itulah, kemudain manusia modern ala barat ini mencurahkan seluruh potensi hidup mereka untuk berlomba mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Hanya saja, ketika kompetisi perburuan harta ini terjadi, bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak diantara mereka yang hidup dalam kegersangan jiwa. Mereka gelisah dan susah tanpa tahu sebab-musababnya. Akhirnya mereka melarikan diri pada obat-obat terlarang. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian melakukan bunuh diri, walaupun ia telah mengumpulkan harta yang sedemikian banyaknya.</span><span id="more-6"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kenyataan seperti ini kemudian menyadarkan sebagian menusia modern bahwa manusia bukan hanya tersusun dari onggokan daging dan tulang. Namun manusia memiliki sisi-sisi yang tidak dapat diraih dengan indera, namun bisa dirasakan kehadirannya. Di sana ada hati, ada ruh, dimana manusia merasakan kesedihan dan kegembiraan. Ketika kebutuhan-kebutuhan hati tersebut terpenuhi, maka secara otomatis bagian-bagian fisik manusia pun akan bergerak dan berfungsi dengan baik. Dan pada saat itulah, kebahagiaan sejati manusia dapat diraih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di sinilah kemudian peran Islam menjadi sangat penting bagi masyarakat modern. Sebab, Islam tidak hanya memandang manusia sebagai bentuk fisik. Islam memandang manusia secara menyeluruh. <em>Pertama</em>, sebagai sebuah kenyataan fisik yang membutuhkan makan, minum, sex, dan erbagai kebutuhan fisik lainnya. <em>Kedua</em>, sebagai kenyataan nonfisik sebagai ruh, <em>qolbu</em> dan akal yang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan ruhani pula. Seperti ilmu, hikmah, kearifan, kedekatan dengan Allah, munajat dan lain-lain. Karena itulah, Islam tidak hanya mengajarkan aspek-aspek pemenuhan kebutuhan fisik seperti bekerja, menikah, berdagang, berumah tangga dan lain-lain. Islam juga mengajarkan bagaimana manusia memenuhi ketenangan dan keseimbangan batin di satu sisi, serta mendapatkan kemapanan fisik atau kemapanan materi di sisi lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="font-weight:bold;text-align:justify;"><span style="font-size:100%;" lang="IN">NABI DAN RASUL SEBAGAI GURU RUHANI</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Manusia selalu memerlukan kehadiran orang lain dalam menggapai kesempurnaan hidupnya. Dala penyempurnaan fisik manusia misalnya, ia memerlukan orang tua yang mengasuh dan memenuhi kebutuhan fisiknya. Ketika manusia sakit, ia membutuhkan kehadiran dokter yang mengobatinya. Ketika manusia belum tahu apa-apa, maka ia memerlukan guru yang mengajarinya dan membebaskannya dari kebodohan. Dan ketika manusia terancam, maka ia memerlukan tentara dan polisi yang menjamin keamanan fisiknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikian juga dengan penyempurnaan ruhani manusia. Manusia memerlukan informasi kemana ruhnya akan pergi. Manusia memerlukan penunjuk jalan dalam menyusuri perjalanan ruhaninya. Manusia juga memerlukan dokter ruhani yang menyembuhkan penyakit selama perjalanannya. Manusia juga membutuhkan jaminan keamanan selama perjalanan ruhaninya agar sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam pandangan Islam, para Nabi dan Rasul memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan spiritual manusia. <em>Pertama</em>, pemandu jalan menuju kesempurnaan spiritual. Hal ini karena para Nabi dan Rasul adalah sekelompok manusia yang memiliki pengetahuan sempurna tentang jalan spiritual. Mereka mengetahui dari mana manusia ada, dan menuju kemana perjalanan kehidupan manusia pada akhirnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><em>Kedua</em>, para Nabi dan Rasul adalah dokter ruhani. Sebagaimana para dokter fisik yang mengenal berbagai macam penyakit serta obatnya, demikian juga para Nabi dan Rasul. Mereka sangat mengenai berbagai penyakit ruhani manusia sekaligus obatnya. Hal ini bisa kita lihat bagaimana hasil ‘pengobatan’ Rasulullah SAW terhadap penyakit spiritual masyarakat pada masa itu. Orang-orang Arab sebelumnya dikenal dengan kebejatan moralnya, melalui sentuhan pengobatan beliau, kemudian mengalami perubahan yang sangat dahsyat. Mereka bukan hanya menjadi manusia yang berakhlak mulia, namun secara spiritual melejit ke atas hingga kemudian menempati <em>maqam-maqam</em> spiritual yang tidak dicapai oleh manusia-manusia sebelum dan sesudah mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><em>Ketiga</em>, para Nabi dan Rasul memiliki kemampuan mengamankan perjalanan spiritual para pengikutnya. Dengan kekuatan doa mereka, para pengikutnya dengan aman meniti jalan spiritual. Mereka yang menggapai kesuksesan dalam perjalanan spiritual ini bukan hanya satu atau dua orang. Namun jutaan manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="font-weight:bold;text-align:justify;"><span style="font-size:100%;" lang="IN">AL GHAUTS SEBAGAI PEWARIS NABI DAN RASUL</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Istilah Al Ghauts sebagai sosok pewaris Nabi memang tidak terdapat dalam Al Quran atau Hadits. Sebagaimana istilah shahih atau dhaif dalam ilmu hadits, atau istilah <em>mujtahid</em> atau <em>mufti</em> dalam dunia fiqih, atau istilah rukun Islam atau rukun Iman dalam dunia <em>ushuluddin</em>. Namun secara maknawi, keberadaan Al Ghauts sebagai sosok pewaris spiritual keNabian ini banyak ditemui didalam Al Quran dan Sunnah. Demikian juga dengan akal. Keberadaan Al Ghauts ini bukan hanya mungkin. Namun pasti ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Allah SWT sudah menyinggung keberadaan Al Ghauts sebagai sosok manusia yang paling dekat dengan-Nya dalam firman-Nya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><em>“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” </em>(QS. Al Hujaraat: 13).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ayat ini menunjukkan keberadaan manusia yang paling mulia di sisi Allah sekaligus paling bertakwa. Mereka ini dalam dunia tasawuf disebut dengan berbagai istilah. Terkadang disebut dengan istilah <em>Al Ghauts</em> (Sang Penolong) atau <em>Sulthanul Auliya’</em> (Pemimpin kekasih Allah) atau <em>Quthbul Aqthab</em> (Poros segala poros), dan lain-lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Rasulullah SAW pernah menyinggung tentang keberadaan Al Ghauts ini dalam sebuah haditsnya:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><em>“Ulama’ adalah pewaris para Nabi.”</em> (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Istilah ulama’ sendiri dalam Al Quran merujuk kepada mereka yang takut kepada Allah. Bukan merujuk kepada penguasaan dan penghafalan dalil-dalil <em>kitabi</em>. Hai ini sebagaimana firman Allah:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span lang="IN">“Yang paling takut kepada Allah di kalangan hamba-Nya itu hanyalah para Ulama.”</span></em><span lang="IN"> (QS. Al Fathir: 28).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dengan hadits di atas, Rasulullah SAW menginformasikan keberadaan manusia bukan Nabi yang akan mewarisi beliau. Bila para Khalifah mewarisi wewenang beliau dalam kekuasaan duniawi, maka di kalangan Ulama’ yang mewarisi fungsi Rasulullah SAW adalah <em>Al Ghauts</em> ini. Mereka ini berfungsi sebagai petunjuk jalan perjalanan ruhani umat, sebagai <em>tabib ruhani</em> sekaligus sebagai pengaman umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Secara rasio, keberadaan Al Ghauts ini bukan hanya bersifat mungkin, namun pasti. Allah menciptakan manusia dengan berbagai tingkatan di bidangnya masing-masing. Dalam bidang materi, manusia bertingkat-tingkat hingga kemudian ada istilah manusia terkaya. Dalam bidang intelektual, manusia pun bertingkat-tingkat sehingga ada istilah manusia terpandai. Demikian juga dalam bidang ketakwaan dan kedekatan kepada Allah. Manusia pun terbagi dalam tingkatan-tingkatan yang sangat banyak. Istilah <em>Al Ghauts</em> ini merujuk kepada manusia yang paling dekat kepada Allah dalam suatu era.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Berdasarkan hal-hal diatas, amaka kita tahu bahwa Al Ghauts adalah pewaris yang paling layak untuk melanjutkan tugas Rasulullah SAW dalam membimbing umat menuju makrifat kepada Allah Ta’ala. Bagaimana tidak demikian,. Bukankah Al Ghauts adalah manusia yang paling bertakwa di kalangan umat dalam suatu masa? Bukankah Al Ghauts berarti juga seorang ‘ulama’ yang menduduki peringkat tertinggi dalam mewarisi hidayah yang dipancarkan oleh Rasulullah SAW?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="font-weight:bold;text-align:justify;"><span style="font-size:100%;" lang="IN">MENJALIN HUBUNGAN BATIN DENGAN AL GHAUTS</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Kita tahu bahwa dunia fisik penuh dengan misteri. Apa yang tidak kita kenal dan kita ketahui di dunia fisik ini jauh lebih banyak daripada apa yang kita kenal dan kita ketahui. Sehingga apabila seseorang ingin melakukan perjalanan, kehadiran seorang pendamping dan penunjuk jalan sangatlah penting.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Seorang yang berasal dari daerah pelosok misalnya, jika ingin berpergian ke Jakarta misalnya, tentu sangat berat apabila ia menempuh perjalanan tersebut seorang diri. Walaupun ia membawa setumpuk peta, dia pasti akan kesulitan untuk mencapai Jakarta. Banyak tenaga yang harus dia kuras. Belum lagi dengan kerawanan keamanan di jalan. Bisa jadi ia tersesat atau disesatkan oleh orang tanpa ia sadari. Ia merasa sudah sampai Jakarta, padahal ia sebenarnya tidak pernah beranjak dari daerahnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Berbeda misalnya jika ia pergi ke Jakarta menaiki kendaraan yang ada sopirnya. Atau paling tidak ia ditemani oleh seseorang yang sudah sangat mengenal Jakarta serta seluk-beluk perjalanannya. Tentu ia akan mencapai tujuannya di Jakarta dengan cara yang jauh lebih mudah dan lebih terjamin keselamatannya daripada jika pergi mencari saudaranya di Jakarta sendirian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Demikian juga dengan belantara ruhani. Seseorang yang ingin menggapai <em>maqam mardbiyyah </em>(diridhai Allah) tidak cukup hanya belajar dari buku-buku tasawuf, kemudian ia melakukan perjalanan ruhani sendirian. Ia melakukan serangkaian riyadhah tanpa ada seorang pembimbing ruhani yang mendampinginya. Bisa jadi ia merasa telah mencapai <em>maqam makrifatullah</em>, padahal ia tidak ada perubahan sama sekali. Ia tetap dalam tawanan hawa nafsunya. Betapa banyaknya mereka yang melakukan perjalanan spiritual dengan tujuan yang bersih, namun karena ketiadaan seorang pembimbing bukan <em>maqam wilayah</em> (kewalian) yang ia peroleh. Namun ia hanya berhenti pada <em>maqam perdukunan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Karena itulah, sangat tepat jika kemudian Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><em>“Dan ikutilah jalan mereka yang kembali kepada-Ku”</em> (QS. Lukman: 15).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam ayat lain Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><em>“maka bertanyalah kepada Ahli Dzikir jika engkau tidak mengetahui.” </em>(QS. An Nahl: 42).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam ayat lain Allah berfirman:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN"><em>“Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan Ulil Amri.” </em>(QS.<span style="font-size:0;"> </span>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Ayat di atas memerintahkan kepada orang beriman untuk taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri. Para <em>Mufassir Al Quran </em>mengartikan kata <em>Ulil Amri</em> ini dengan Ulama’ atau guru. Sudah tentu, jika kita berbicara dalam lapangan spiritual, <em>Ulil Amri</em> ini bisa mengacu kepada Al Ghauts. Karena beliaulah pemegang wewenang tertinggi dalam dunia spiritual (tasawuf).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: <em>“Tetaplah kalian dalam jamaah. Karena srigala hanya akan memangsa domba yang sendirian.” </em>(HR. Abu Daud/Hasan/Riyaadhush Sholihiin hal. 451).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hadits ini memang membicarakan masalah shalat berjamaah. Namun potongan hadits ini bisa diperluas cakupannya dalam bidang tasawuf. Ketika kita memperluas cakupan hadits di atas dalam dunia tasawuf, maka pengertiannya adalah bahwa siapa yang tidak bergabung dalam jamaah <em>pejalan ruhani</em> yang dipimpin oleh seorang Syaikh, maka syetan akan selalu mengancam perjalanannya. Di sini perlu dicamkan; keharusan adanya pemimpin/Syaikh dalam jamaah, karena salah satu syarat dari jamaah adalah adanya seorang pemimpin, Syaikh atau Imam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam Az Zubaidiy, seorang pensyarah Ihya’ Ulumuddin berkata, <em>“Sebagian di antara hukum bagi murid adalah bahwa ketika ia tidak menemukan guru yang membimbingnya di daerahnya, maka ia wajik berhijrah kepada guru yang mendapatkan wewenang pada masanya. Kemudian ia tinggal bersama gurunya.”</em> (Ittihaafus Sadaatil Muttaqiin, Syarah Ihyaa’ Uluumuddien Juz VII hal. 381).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali berkata, <em>“Murid (pelaku spiritual menuju makrifatullah) pasti membutuhkan Syaikh dan guru yang dijadikan panutan agar menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Karena sesungguhnya jalan agama itu samar. Sedangkan jalan-jalan syetan itu banyak dan jelas. Siapa saja yang tidak memiliki guru, maka syetan pasti akan menuntunnya menuju jalan-jalan syetan. Siapa saja yang menyusuri jalan pedalaman gurun yang merusak tanpa pengamanan, maka ia telah membahayakan dirinya sendiri dan menghancurkannya. Orang yang menyendiri (tanpa guru) bagaikan pohon yang tumbuh sendiri. Ia akan kering dalam waktu dekat. Andaikan pohon itu bisa bertahan dan bardaun, maka ia tidak akan berbuah. Karena itulah, murid hendaknya berpegangan dengan guru sebagaimana orang buta di pinggir sungai berpegangan dengan penuntunnya secara total. Ia tidak menyelisihi penuntunnya, baik ketika masuk atau keluar. Ia tidak menyisakan sesuatu pun dalam mengikuti penuntunnya dan tidak meninggalkan penuntunnya itu. Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa manfaat dalam mengikuti kesalahan seorang guru andaikan guru itu salah, jauh lebih besar daripada manfaat kebenaran yang ia peroleh secara mandiri, andaikan ia itu benar.”</em> (Ihya’ Uluumuddin cetakan Darul Fikri Juz III hal. 81).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Imam Abu Ali Ad Daqqaq berkata, <em>“Tumbuhan jika tumbuh sendiri tanpa ada yang menanamnya andaikan berdaun, namun ia tidak akan berbuah. Demikian juga dengan seorang murid. Jika ia tidak memiliki guru dimana ia mengambil thariqahnya secara langsung, maka ia seperti menyembah nafsunya sendiri dan tidak akan menemukan jalan keluar.” </em>(Ittihaafus Saadaatil Muttaqiin Juz V hal. 371).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Salah seorang Imam Agung Tasawuf, Syaikh Abul Qosim Al Qusyairi berkata, <em>“Kemudian wajib atas seorang murid untuk bertatakrama dengan seorang guru. Jika ia tidak memiliki guru, maka ia tidak akan sukses selamanya. Bagaimana tidak, sedangkan Abu Yazid dengan segala kelebihan ruhaninya masih berkata: ‘siapa yang tidak memiliki guru, maka syetan menjadi imamnya.” </em>(Ittihaafus Saadaatil Muttaqiin Juz VII hal. 371).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IN">Di era modern saat ini, membanjirnya informasi serta kemajuan intelektualitas, terbukti tidak berhasil mendewasakan perkembangan kejiwaan banyak manusia. Hal ini terbukti dengan banyaknya kegelisahan yang tidak beralaskan, meningkatnya angka bunuh diri dan maraknya obat penenang. Bagi kita pengamal Wahidiyah, selama kita berpegang dengan Al Ghauts yang kita yakini, Insya Allah hati kita akan dianugerahi Allah ketenangan dan petunjuk Allah tiada henti. Amin! <em>Wallahu a’lam</em>. (Zk)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:right;"><span lang="IN">Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73  TH.X  SYAWAL 1428<br />
</span><span lang="IN">aham_wahidiyah@yahoo.com</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bhayusenoaji.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bhayusenoaji.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bhayusenoaji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bhayusenoaji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bhayusenoaji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bhayusenoaji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bhayusenoaji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bhayusenoaji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bhayusenoaji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bhayusenoaji.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bhayusenoaji.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bhayusenoaji.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bhayusenoaji.wordpress.com&blog=4437806&post=6&subd=bhayusenoaji&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bhayusenoaji.wordpress.com/2008/07/08/guru-ruhani-penerus-nabi-pelita-menuju-ilahi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/015ee42b12d16c1620eb603684e94b50?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Bhayu Senoaji</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>