Meraih Kemenangan dengan Kekuatan Do’a

Agustus 27, 2008 at 9:14 am (Artikel, Islam) (, , , )

Saat ini manusia hidup dalam suasana materialisme. Maksud dari materialisme di sini adalah bahwa manusia modern saat ini meletakkan faktor-faktor yang tertangkap oleh akal dan panca indera sebagai faktor penting dalam kehidupan mereka. Segala keputusan mereka selalu mempertimbangkan hal-hal yang bersifat materi ini. Baru ketika faktor-faktor materi ini hilang, mereka mulai menengok cara-cara pemecahan masalah melalui pendekatan spiritual atau kerohanian. Misalnya melalui doa, istighotsah, istikharah atau lelaku spiritual lainnya.

Walaupun demikian, mereka ini masih mending. Hal ini karena sebagian besar masyarakat modern ini meletakkan faktor-faktor fisik sebagai satu-satunya alat dan pertimbangan dalam menanggapi permasalahan kehidupan. Ketika faktor-faktor ini tidak mereka dapatkan, mereka menjadi putus asa. Bahkan tak jarang keputusasaan ini menimbulkan berbagai penyimpangan kejiwaan. Seperti depresi, shock atau bahkan bisa mengarah kepada tindak bunuh diri.

Dan ternyata keadaan ini banyak terjadi di berbagai negara yang secara fisik maju. Di negara-negara yang saat ini menjadi kiblat kemajuan materi, seperti Amerika atau Jepang, bunuh diri telah menjadi penyakit sosial yang cukup serius. Dan hal ini bukan hanya menimpa kalangan rakyat jelata. Bahkan hingga menimpa kalangan super elit. Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar

Makna Filosofis 17

Agustus 15, 2008 at 7:27 am (Islam, Tahukah Anda?) (, , , , , )

Bangsa ini tidak terasa 63 tahun sudah merdeka, tepatnya tanggal 17 Agustus yang akan datang. Yang menarik ternyata angka 17 kalau kita renungkan memang sangat berarti bagi seluruh bangsa khususnya bagi umat Islam di seluruh Indonesia. Kalau kita telisik sejarah ternyata 17 Agustus 1945 bertepatan pada tanggal 17 Rhamadan 1366 Hijriyah yang bertepatan dengan Nuzulul Qur’an, dan tidak bisa kita pungkiri banyak para ulama’ yang ikut berjuang untuk merebut kemerdekaan bangsa ini yang sangat konsisten menjaga 17 raka’at. Maka dengan jujur pencetus UUD 1945 menuliskan didalamnya “Dan dengan rahmat Allah”. Jadi kesimpulannya angka 17 memang sangat penting bagi bangsa, khususnya seluruh orang Islam di Indonesia. Amin

Dikutip dari Selembaran Shalat Jum’at AT-TAWAZUN Edisi ke-115

Permalink & Komentar

Berat dan Nikmatnya Riyadhoh

Juli 16, 2008 at 1:23 am (Cerita, Islam) (, , , )

Semua bermula ketika seorang yang kujadikan panutan dalam kehidupan kerohanianku berkata:

“Tak ada orang besar yang tak riyadhoh”

aku pun mencoba riyadhoh sekuatku sekemampuanku dan alhamdulillah berhasil dalam beberapa hari terakhir ini sampai detik ini dan semoga hingga detik tak terhingga.

Berpuasa disekitar orang yang sedang tidak berpuasa sungguh berat, betapa tidak ketika perutku sedang kosong tiba-tiba aku melihat orang-orang didepanku memakan sesuatu dari genggamannya, meminum sesuatu dari botol minumannya. Jujur rasa ngiler terkadang muncul tapi ah itu cuma kenikmatan sesaat, batinku memberontak. Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar

Adab dalam Shalat

Juli 9, 2008 at 3:43 am (Artikel, Islam) (, , , , )

Begitu pentingnya kedudukan shalat dalam Islam, karena shalat merupakan ibadah yang dihisab pertama di akhirat nanti. Karena itu sebagai Muslim kita harus lebih perhatian terhadap adab-adab shalat kita. Karena, adab merupakan penentu diterima-tidaknya amal perbuatan kita. Adab-adab yang harus diperhatikan dalam mengerjakan shalat, antara lain:

  1. Membersihkan kotoran yang melekat di badan atau istilah lainnya kita harus suci dari hadats kecil maupun besar. Kemudian menutup aurat, berdiri menghadap kiblat sambil merenggangkan kedua telapak kaki, dan bacalah surat An Naas untuk melindungi diri dari godaan syetan.
  2. Merasa malu untuk bermunajat kepada Allah, karena selama ini hati kita selalu lalai, senantiasa memikirkan urusan dunia, bukan memikirkan urusan akhirat. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Fragmen Sufi AHAM EDISI 73

Juli 9, 2008 at 3:42 am (Artikel, Islam) (, , , , , , , , )

17 DOSA BESAR

Didalam Kitab Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah menukil, bahwa Abu Thalib Al Makki pernah berkata: “Dosa besar itu ada 17. Saya menghimpunnya dari pengabaran. Pertama, empat macam ada di hati: syiirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa, merasa aman dari tipu daya. Kedua, empat macam ada di lidah: kesaksian palsu, menuduh wanita baik-baik, sumpah palsu dan sihir. Ketiga, tiga macam ada di perut: minum khamer, makan harta anak yatim secara dzalim, dan memakan riba. Keempat, dua macam di kemaluan: zina dan homoseks. Kelima, dua macam ada di tangan: membunuh dan mencuri. Keenam, satu ada di kaki: melarikan diri saat pertempuran. Dan ketujuh, satu macam ada di seluruh badan: durhaka kepada orang tua.”
Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

KEMISKINAN; Masalah Sepele dalam Syariat Islam

Juli 9, 2008 at 3:40 am (Artikel, Ekonomi, Islam) (, , , )

Oleh: Abdul Fatih Zakaria *

KemiskinanKemiskinan adalah wajah Indoneisa saat ini. Kemerdekaan Indoneisa yang telah berusia 63 tahun (hingga tahun 2007) ternyata tidak membuat kemiskinan terhapus dari negeri ini. Pilihan para pemimpin Indonesia untuk meminggirkan peran syariah dari kehidupan ternyata membawa bangsa ini ke jurang kemiskinan yang akut. Menurut laporan Bank Dunia tahun 2006, jumlah masyarakat miskin di Indonesia mencapai kurang lebih 49,7%. Ini artinya bahwa kemerdekaan selama 63 tahun saat ini ternyata tidak berhasil mengangkat bangsa ini dari kemiskinan. Padahal apabila pengangkatan kemiskinan ini didasarkan pada syariah, mungkin sejak tahun 1952 atau 2 tahun sejak Belanda angkat kaki dari tanah air, bangsa Indonesia telah terbebas dari kemiskinan.

Para ulama’ Islam memiliki banyak solusi dalam menanggulangi kemiskinan. Di sana ada zakat. Telah banyak kajian tentang zakat dalam kaitannya dengan pemberantasan kemiskinan. Di antaranya sebuah kitab berharga karya Dr. Yusuf Al Qordhawi yang berjudul Musykilatul Faqr wa Kaifa Yuaalijuhal Islam (Masalah kemiskinan dan bagaimana Islam mengatasinya). Di antara Ulama ada yang menitik beratkan pemberantasan kemiskinan dengan penerapan sistem pemerintahan Islam sebagaimana dilakukan oleh para ikhwan dari berbagai gerakan Islam. Di antara ulama’ ada yang menyoroti pemberantasan kemiskinan dari sisi bina wiraswasta Islam sebagaimana dilakukan oleh Akhina Fillah Dr. Syafi’i Anronio. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Syekh Bisyr bin Harits RA, Kekasih Allah yang Berkaki Telanjang

Juli 9, 2008 at 3:39 am (Artikel, Islam) (, , , )

Nama lengkapnya Abu Bisyr bin Al Harits Al Hafi. Beliau lahir sekitar tahun 150 H/767 M di dekat Kota Merv. Belajar hadits di Baghdad dan menetap di sana. Di usia muda, beliau terkenal sebagai pemuda berandal dan suka mabuk-mabukan. Namun setelah sadar, pendidikan formal yang sedang ditekuninya, juga kehidupan malam yang suram ditinggalkannya. Beliau lalu mengasah ruhaninya dengan disiplin diri yang kuat. Hidup sebagai pengemis yang terlunta-lunta, kelaparan, dan bertelanjang kaki.

Bagaimana jalan hidup Bisyr, manusia berkaki telanjang yang sangat dikagumi Imam Ahmad bin Hambal dan dihormati oleh Khalifah Al Makmun? Inilah kisahnya. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Kaum Munafik; Selalu Plin-plan dan Bingung

Juli 8, 2008 at 11:06 am (Artikel, Islam) (, , )

“Dan ketika dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah sebagaimana manusia-manusia beriman’, mereka berkata: ‘apakah kami akan beriman sebagaimana orang-orang bodoh beriman’. Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu sendirilah yang bodoh. Tetapi mereka tidak mengetahui. Dan ketika mereka bertemu dengan orang beriman, mereka akan mengatakan: ‘Kami beriman’. Dan ketika mereka menyendiri kepada pimpinan-pimpinan mereka, maka mereka (kaum munafik) berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian. Kami hanya bersendagurau saja (dengan pernyataan iman)’. Allah menjadikan mereka gurauan dan membiarkan mereka kebingungan dalam kedzaliman mereka.”

(QS. Al Baqarah: 12-15)

Diantara sifat kaum munafik adalah bahwa mereka ini memiliki rasa rendah diri terhadap Islam. Hal ini karena pada masa Rasulullah SAW, sebagian besar kaum muslimin adalah lapisan bawah masyarakat. Mereka ini ada yang berasal dari kalangan budak, fakir miskin, dan kelompok masyarakat yang teroinggirkan dalam sistem masyarakat jahiliyyah. Dan mayoritas mereka ini adalah kaum yang tidak terpelajar. Bahkan banyak sekali di antara mereka yang tidak mengenal baca tulis.

Sementara mayoritas penentang Islam adalah masyarakat yang relatif lebih sejahtera. Di Makkah mereka terdiri dari kaum bangsawan Quraisy. Di Madinah mereka ini adalah kalangan Yahudi. Kedua kelompok masyarakat tersebut relatif lebih sejahtera dan terpelajar. Rata-rata mereka ini mengenal budaya tulis-menulis yang pada saat itu menjadi simbol ketinggian status ilmiah. Dan jika seseorang mengarahkan pandangan ke luar Jazirah Arab, maka ia akan bisa segera melihat bahwa di sana ada bangsa Romawi yang beragama Nasrani dan kerajaan Persia yang beragama Majusi. Kedua bangsa ini terkenal dengan ketinggian peradabannya. Karena itulah, setiap kali kaum munafik diajak agar ber-Islam secara kaffah (total), maka mereka akan mengatakan (baik secara terang-terangan atau tersembunyi) bahwa Islam adalah agama orang-orang bodoh. Karena itulah, mereka lebih suka dengan akidah kaum yang mereka anggap sebagai masyarakat maju. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Guru Ruhani Penerus Nabi, Pelita Menuju Ilahi

Juli 8, 2008 at 11:02 am (Artikel, Islam) (, , , )

Salah satu doktrin dari peradaban modern ala barat adalah bahwa tujuan manusia adalah pemenuhan kebutuhan materi semata-mata. Ketika materi terpenuhi, maka pada saat itulah manusia menemukan kebahagiaan hidupnya. Sebaliknya, menurut cara berpikir materialis ini, ketika manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan yang bersifat meteri ini, maka pada saat itulah menusia hidup dalam penderitaan. Sementara urusan keruhanian sama sekali tidak termasuk dalam bagian yang menentukan kebahagiaan.

Karena itulah, kemudain manusia modern ala barat ini mencurahkan seluruh potensi hidup mereka untuk berlomba mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Hanya saja, ketika kompetisi perburuan harta ini terjadi, bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak diantara mereka yang hidup dalam kegersangan jiwa. Mereka gelisah dan susah tanpa tahu sebab-musababnya. Akhirnya mereka melarikan diri pada obat-obat terlarang. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian melakukan bunuh diri, walaupun ia telah mengumpulkan harta yang sedemikian banyaknya. Baca entri selengkapnya »

Permalink & Komentar