Antara yang Bakat dan Gak Bakat
“WOW IT’S BEAUTIFULL!” that’s what I said when I saw a eforby plants at my home. Gak percaya pada awalnya ketika tahu kalo tanaman itu ditanam oleh mami ku, bahkan ketika awal-awal pun gw (gak cuma gw sih tapi bokap n’ teteh juga) sempat mengejek “Alah….paling bentar lagi mati” terhadap apa yang mami ku tanam. (jahat memang haha….)
Cukup beralasan memang mengapa kami semua mengejek mami dan tanamannya, karena hampir semua anggota keluarga kami diketahui gak ada yang berbakat menanam tanaman (istilahnya semua bertangan “panas”). Malah katanya sih tangan “gw” yang lumayan tapi nyatanya kesabaran dan kepiawaian mami ku lah yang membuat semuanya berubah. Merubah semua tentang keraguan akan ‘kedinginan” tangannya.
Sedikit bernostalgia, dulu gw memang suka dengan kegiatan bercocok tanam.
Cabai, tomat, timun suri pernah gw tanam dan gw dapat kan hasilnya. Gak jelek-jelek amat sih, ya… itungannya lumayan lah buat anak baju putih-biru mah.
Pernah juga nih gw berkecimpungan di dunia perternakan tapi (T_T) hasilnya ternyata NOL BESAR. Semua pada mati mulai dari bencana kekeringan dan kelaparan yang pernah dialami oleh mendiang ayam, burung dan jangkrik ku hingga bencana tambrak lari yang pernah dialami oleh mendiang ayam ku yang satunya lagi. Sakit hati ini ditinggalkan mereka (semua gara-gara gw sih haha….), ya…namanya ‘ra bakat, yowis mau gimana lagi. Hahaha……


