Fragmen Sufi AHAM EDISI 73

Juli 9, 2008 at 3:42 am (Artikel, Islam) (, , , , , , , , )

17 DOSA BESAR

Didalam Kitab Minhajul Qashidin, Ibnu Qudamah menukil, bahwa Abu Thalib Al Makki pernah berkata: “Dosa besar itu ada 17. Saya menghimpunnya dari pengabaran. Pertama, empat macam ada di hati: syiirik, terus-menerus melakukan kedurhakaan, putus asa, merasa aman dari tipu daya. Kedua, empat macam ada di lidah: kesaksian palsu, menuduh wanita baik-baik, sumpah palsu dan sihir. Ketiga, tiga macam ada di perut: minum khamer, makan harta anak yatim secara dzalim, dan memakan riba. Keempat, dua macam di kemaluan: zina dan homoseks. Kelima, dua macam ada di tangan: membunuh dan mencuri. Keenam, satu ada di kaki: melarikan diri saat pertempuran. Dan ketujuh, satu macam ada di seluruh badan: durhaka kepada orang tua.”

TIANG, SAYAP, SEBAB, DAN WAKTU DOA

Pada suatu hari, Ibnu Atha pernah memberikan nasihat tentang rahasia doa yang baik. Ia mengatakan, “Doa itu mempunyai tiang, sayap, sebab dan waktu. Jika tiangnya dibangun, doa menjadi kokoh. Jika sayapnya tumbuh, doa akan bias naik ke atas langit. Jika waktunya terpenuhi, doa itu akan menang. Jika sebab-sebabnya dilaksanakan, doa itu akan berhasil dikabulkan.

Tiang-tiang doa itu adalah: kensentrasi hati, kelembutan, ketenangan, khusyuk di hadapan Yang Maha Mengetahui yang gaib. Sayap doa itu: tulus dan jujur mengakui segala kesalahan kepada Allah. Waktu doa adalah waktu sahur. Sebab dikabulkannya doa itu adalah shalawat kepada Rasulullah SAW.”

SYAHWAT PALING KUAT

Dalam sebuah kesempatan, Ibnu Qayyim Al Jauziyah pernah mengatakan, “Saya telah mempelajari seluruh syahwat manusia, dan yang kutemukan kemudian adalah fakta bahwa syahwat paling kuat dalam diri manusia ternyata syahwat kekuasaan. Hanya untuk syahwat ini manusia rela mengorbankan seluruh syahwatnya yang lain. Tapi, hanya kekuasaan juga yang dapat memberi saluran bagi seluruh syahwat manusia.”

PENAMPAKKAN AKHLAK

Didalam kitab Ta’amulat fi Kitab Madarijus Salikin li Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah, Syekh Shaleh Syadi mengatakan: “Bagaimana suatu akhlak itu menampakkan dirinya? Pertama, apabila engkau berusaha sendiri dengan sungguh-sungguh tanpa merampas harta seseorang atau hak orang lain, maka usahamu itu adil adanya. Kedua, apabila engkau menemui kesulitan dalam berusaha dan dengan bersusah payah memikul beratnya bersikap terhormat dan berlaku adil, maka dengan demikian engkau telah melakukan kesabaran. Ketiga, apabila dalam usahamu ini negkau dihadapkan dengan bahaya-bahaya, kemudian engkau tetap bersikeras untuk menerobosnya, tetapi tidak menemukan jalur yang mudah, maka engkau tergolong orang yang pemberani. Keseluruhannya kembali kepada satu asal, yaitu: merupakan makna adil yang sejalan dengan keutamaan-keutamaan jiwa dan menjadi sumber kebaikan.”

KEGELISAHAN NABI ZAKARIYA SAAT BELUM DIKARUNIAI ANAK

Ketika rambut sudah memutih, istripun sudah tua. Tapi Allah belum juga berkenan memberikan anak kepada Nabi Zakariya. Hingga pada suatu malam beliau berdoa dengan penuh khusyuk. Beliau mengadukan kegelisahannya. “Ya Tuhanku, tulangku sudah melemah dan kepalaku ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap generasiku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku di sisi Engkau seorang putera. Yang akan mewarisi sebahagian keluarga Ya’kub, dan jadikanlah ia ya Tuhanku seorang yang diridhai.” (QS. Maryam: 4-6).

Pengaduan dan doa yang tulus Nabi Zakariya pun didengar Allah. Dan lahirlah Yahya yang nantinya juga diangkat menjadi nabi.

TIGA SUMBER KHUSYUK

Khusyuk adalah gabungan dari sikap pengagungan, cinta, perasaan rendah dan kepiluan. Ia bisa terjadi hanya dengan: Pertama, engkau mengawasi cacat-cacat jiwa dan amal perbuatanmu. Kedua, engakau melihat pada kebaikan setiap orang yang memberikan kebaikan kepadamu. Dan ketiga, engkau membersihkan waktu-waktumu dari pamer kepada manusia. Maka dengan mengetahui bahwa kesombongan, ujub, riya, lemahnya kejujuran, sedikitnya keyakinan, serta tidak ikhlasnya beramal, maka akan timbul perasaan hina dan pilu. Jika dibarengi dengan perasaan mengagungkan dan cinta, maka akan membawamu kepada kekhusyukan.” (Kata Syekh Syadi dalam kitab Ta’amulat fi Kitab Madarijus Salikin li Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah).

10 KEKUATAN LAPAR

Didalam Kitab Ihya-nya, Imam Al Ghazali mengatakan, “Ada sepuluh kekuatan yang dihasilkan lapar (karena puasa/riyadhah): Pertama, kebersihan hati dan kekuatan pandangan. Kedua, kelembutan hati. Ketiga, rendah hati dan hilangnya kesombongan. Keempat, tidak lupa adzab Allah. Kelima, terbesarnya: menghancurkan hawa nafsu. Keenam, tidak banyak tidur. Ketujuh, meringankan rutinitas ibadah. Kedelapan, kesehatan badan dan jauh dari penyakit. Kesembilan, biaya hidup sedikit. Kesepuluh, memungkinkan shadaqah.”

Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73 | TH.X | SYAWAL 1428
aham_wahidiyah@yahoo.com

Tulis sebuah Komentar