Guru Ruhani Penerus Nabi, Pelita Menuju Ilahi
Salah satu doktrin dari peradaban modern ala barat adalah bahwa tujuan manusia adalah pemenuhan kebutuhan materi semata-mata. Ketika materi terpenuhi, maka pada saat itulah manusia menemukan kebahagiaan hidupnya. Sebaliknya, menurut cara berpikir materialis ini, ketika manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan yang bersifat meteri ini, maka pada saat itulah menusia hidup dalam penderitaan. Sementara urusan keruhanian sama sekali tidak termasuk dalam bagian yang menentukan kebahagiaan.
Karena itulah, kemudain manusia modern ala barat ini mencurahkan seluruh potensi hidup mereka untuk berlomba mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Hanya saja, ketika kompetisi perburuan harta ini terjadi, bukan kebahagiaan yang mereka dapatkan. Yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak diantara mereka yang hidup dalam kegersangan jiwa. Mereka gelisah dan susah tanpa tahu sebab-musababnya. Akhirnya mereka melarikan diri pada obat-obat terlarang. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian melakukan bunuh diri, walaupun ia telah mengumpulkan harta yang sedemikian banyaknya.
Kenyataan seperti ini kemudian menyadarkan sebagian menusia modern bahwa manusia bukan hanya tersusun dari onggokan daging dan tulang. Namun manusia memiliki sisi-sisi yang tidak dapat diraih dengan indera, namun bisa dirasakan kehadirannya. Di sana ada hati, ada ruh, dimana manusia merasakan kesedihan dan kegembiraan. Ketika kebutuhan-kebutuhan hati tersebut terpenuhi, maka secara otomatis bagian-bagian fisik manusia pun akan bergerak dan berfungsi dengan baik. Dan pada saat itulah, kebahagiaan sejati manusia dapat diraih.
Di sinilah kemudian peran Islam menjadi sangat penting bagi masyarakat modern. Sebab, Islam tidak hanya memandang manusia sebagai bentuk fisik. Islam memandang manusia secara menyeluruh. Pertama, sebagai sebuah kenyataan fisik yang membutuhkan makan, minum, sex, dan erbagai kebutuhan fisik lainnya. Kedua, sebagai kenyataan nonfisik sebagai ruh, qolbu dan akal yang membutuhkan kebutuhan-kebutuhan ruhani pula. Seperti ilmu, hikmah, kearifan, kedekatan dengan Allah, munajat dan lain-lain. Karena itulah, Islam tidak hanya mengajarkan aspek-aspek pemenuhan kebutuhan fisik seperti bekerja, menikah, berdagang, berumah tangga dan lain-lain. Islam juga mengajarkan bagaimana manusia memenuhi ketenangan dan keseimbangan batin di satu sisi, serta mendapatkan kemapanan fisik atau kemapanan materi di sisi lain.
NABI DAN RASUL SEBAGAI GURU RUHANI
Manusia selalu memerlukan kehadiran orang lain dalam menggapai kesempurnaan hidupnya. Dala penyempurnaan fisik manusia misalnya, ia memerlukan orang tua yang mengasuh dan memenuhi kebutuhan fisiknya. Ketika manusia sakit, ia membutuhkan kehadiran dokter yang mengobatinya. Ketika manusia belum tahu apa-apa, maka ia memerlukan guru yang mengajarinya dan membebaskannya dari kebodohan. Dan ketika manusia terancam, maka ia memerlukan tentara dan polisi yang menjamin keamanan fisiknya.
Demikian juga dengan penyempurnaan ruhani manusia. Manusia memerlukan informasi kemana ruhnya akan pergi. Manusia memerlukan penunjuk jalan dalam menyusuri perjalanan ruhaninya. Manusia juga memerlukan dokter ruhani yang menyembuhkan penyakit selama perjalanannya. Manusia juga membutuhkan jaminan keamanan selama perjalanan ruhaninya agar sampai pada tujuan hidup yang sebenarnya.
Dalam pandangan Islam, para Nabi dan Rasul memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan spiritual manusia. Pertama, pemandu jalan menuju kesempurnaan spiritual. Hal ini karena para Nabi dan Rasul adalah sekelompok manusia yang memiliki pengetahuan sempurna tentang jalan spiritual. Mereka mengetahui dari mana manusia ada, dan menuju kemana perjalanan kehidupan manusia pada akhirnya.
Kedua, para Nabi dan Rasul adalah dokter ruhani. Sebagaimana para dokter fisik yang mengenal berbagai macam penyakit serta obatnya, demikian juga para Nabi dan Rasul. Mereka sangat mengenai berbagai penyakit ruhani manusia sekaligus obatnya. Hal ini bisa kita lihat bagaimana hasil ‘pengobatan’ Rasulullah SAW terhadap penyakit spiritual masyarakat pada masa itu. Orang-orang Arab sebelumnya dikenal dengan kebejatan moralnya, melalui sentuhan pengobatan beliau, kemudian mengalami perubahan yang sangat dahsyat. Mereka bukan hanya menjadi manusia yang berakhlak mulia, namun secara spiritual melejit ke atas hingga kemudian menempati maqam-maqam spiritual yang tidak dicapai oleh manusia-manusia sebelum dan sesudah mereka.
Ketiga, para Nabi dan Rasul memiliki kemampuan mengamankan perjalanan spiritual para pengikutnya. Dengan kekuatan doa mereka, para pengikutnya dengan aman meniti jalan spiritual. Mereka yang menggapai kesuksesan dalam perjalanan spiritual ini bukan hanya satu atau dua orang. Namun jutaan manusia.
AL GHAUTS SEBAGAI PEWARIS NABI DAN RASUL
Istilah Al Ghauts sebagai sosok pewaris Nabi memang tidak terdapat dalam Al Quran atau Hadits. Sebagaimana istilah shahih atau dhaif dalam ilmu hadits, atau istilah mujtahid atau mufti dalam dunia fiqih, atau istilah rukun Islam atau rukun Iman dalam dunia ushuluddin. Namun secara maknawi, keberadaan Al Ghauts sebagai sosok pewaris spiritual keNabian ini banyak ditemui didalam Al Quran dan Sunnah. Demikian juga dengan akal. Keberadaan Al Ghauts ini bukan hanya mungkin. Namun pasti ada.
Allah SWT sudah menyinggung keberadaan Al Ghauts sebagai sosok manusia yang paling dekat dengan-Nya dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al Hujaraat: 13).
Ayat ini menunjukkan keberadaan manusia yang paling mulia di sisi Allah sekaligus paling bertakwa. Mereka ini dalam dunia tasawuf disebut dengan berbagai istilah. Terkadang disebut dengan istilah Al Ghauts (Sang Penolong) atau Sulthanul Auliya’ (Pemimpin kekasih Allah) atau Quthbul Aqthab (Poros segala poros), dan lain-lain.
Rasulullah SAW pernah menyinggung tentang keberadaan Al Ghauts ini dalam sebuah haditsnya:
“Ulama’ adalah pewaris para Nabi.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Istilah ulama’ sendiri dalam Al Quran merujuk kepada mereka yang takut kepada Allah. Bukan merujuk kepada penguasaan dan penghafalan dalil-dalil kitabi. Hai ini sebagaimana firman Allah:
“Yang paling takut kepada Allah di kalangan hamba-Nya itu hanyalah para Ulama.” (QS. Al Fathir: 28).
Dengan hadits di atas, Rasulullah SAW menginformasikan keberadaan manusia bukan Nabi yang akan mewarisi beliau. Bila para Khalifah mewarisi wewenang beliau dalam kekuasaan duniawi, maka di kalangan Ulama’ yang mewarisi fungsi Rasulullah SAW adalah Al Ghauts ini. Mereka ini berfungsi sebagai petunjuk jalan perjalanan ruhani umat, sebagai tabib ruhani sekaligus sebagai pengaman umat.
Secara rasio, keberadaan Al Ghauts ini bukan hanya bersifat mungkin, namun pasti. Allah menciptakan manusia dengan berbagai tingkatan di bidangnya masing-masing. Dalam bidang materi, manusia bertingkat-tingkat hingga kemudian ada istilah manusia terkaya. Dalam bidang intelektual, manusia pun bertingkat-tingkat sehingga ada istilah manusia terpandai. Demikian juga dalam bidang ketakwaan dan kedekatan kepada Allah. Manusia pun terbagi dalam tingkatan-tingkatan yang sangat banyak. Istilah Al Ghauts ini merujuk kepada manusia yang paling dekat kepada Allah dalam suatu era.
Berdasarkan hal-hal diatas, amaka kita tahu bahwa Al Ghauts adalah pewaris yang paling layak untuk melanjutkan tugas Rasulullah SAW dalam membimbing umat menuju makrifat kepada Allah Ta’ala. Bagaimana tidak demikian,. Bukankah Al Ghauts adalah manusia yang paling bertakwa di kalangan umat dalam suatu masa? Bukankah Al Ghauts berarti juga seorang ‘ulama’ yang menduduki peringkat tertinggi dalam mewarisi hidayah yang dipancarkan oleh Rasulullah SAW?
MENJALIN HUBUNGAN BATIN DENGAN AL GHAUTS
Kita tahu bahwa dunia fisik penuh dengan misteri. Apa yang tidak kita kenal dan kita ketahui di dunia fisik ini jauh lebih banyak daripada apa yang kita kenal dan kita ketahui. Sehingga apabila seseorang ingin melakukan perjalanan, kehadiran seorang pendamping dan penunjuk jalan sangatlah penting.
Seorang yang berasal dari daerah pelosok misalnya, jika ingin berpergian ke Jakarta misalnya, tentu sangat berat apabila ia menempuh perjalanan tersebut seorang diri. Walaupun ia membawa setumpuk peta, dia pasti akan kesulitan untuk mencapai Jakarta. Banyak tenaga yang harus dia kuras. Belum lagi dengan kerawanan keamanan di jalan. Bisa jadi ia tersesat atau disesatkan oleh orang tanpa ia sadari. Ia merasa sudah sampai Jakarta, padahal ia sebenarnya tidak pernah beranjak dari daerahnya.
Berbeda misalnya jika ia pergi ke Jakarta menaiki kendaraan yang ada sopirnya. Atau paling tidak ia ditemani oleh seseorang yang sudah sangat mengenal Jakarta serta seluk-beluk perjalanannya. Tentu ia akan mencapai tujuannya di Jakarta dengan cara yang jauh lebih mudah dan lebih terjamin keselamatannya daripada jika pergi mencari saudaranya di Jakarta sendirian.
Demikian juga dengan belantara ruhani. Seseorang yang ingin menggapai maqam mardbiyyah (diridhai Allah) tidak cukup hanya belajar dari buku-buku tasawuf, kemudian ia melakukan perjalanan ruhani sendirian. Ia melakukan serangkaian riyadhah tanpa ada seorang pembimbing ruhani yang mendampinginya. Bisa jadi ia merasa telah mencapai maqam makrifatullah, padahal ia tidak ada perubahan sama sekali. Ia tetap dalam tawanan hawa nafsunya. Betapa banyaknya mereka yang melakukan perjalanan spiritual dengan tujuan yang bersih, namun karena ketiadaan seorang pembimbing bukan maqam wilayah (kewalian) yang ia peroleh. Namun ia hanya berhenti pada maqam perdukunan.
Karena itulah, sangat tepat jika kemudian Allah berfirman:
“Dan ikutilah jalan mereka yang kembali kepada-Ku” (QS. Lukman: 15).
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“maka bertanyalah kepada Ahli Dzikir jika engkau tidak mengetahui.” (QS. An Nahl: 42).
Dalam ayat lain Allah berfirman:
“Taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul dan Ulil Amri.” (QS. )
Ayat di atas memerintahkan kepada orang beriman untuk taat kepada Allah, Rasul, dan Ulil Amri. Para Mufassir Al Quran mengartikan kata Ulil Amri ini dengan Ulama’ atau guru. Sudah tentu, jika kita berbicara dalam lapangan spiritual, Ulil Amri ini bisa mengacu kepada Al Ghauts. Karena beliaulah pemegang wewenang tertinggi dalam dunia spiritual (tasawuf).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: “Tetaplah kalian dalam jamaah. Karena srigala hanya akan memangsa domba yang sendirian.” (HR. Abu Daud/Hasan/Riyaadhush Sholihiin hal. 451).
Hadits ini memang membicarakan masalah shalat berjamaah. Namun potongan hadits ini bisa diperluas cakupannya dalam bidang tasawuf. Ketika kita memperluas cakupan hadits di atas dalam dunia tasawuf, maka pengertiannya adalah bahwa siapa yang tidak bergabung dalam jamaah pejalan ruhani yang dipimpin oleh seorang Syaikh, maka syetan akan selalu mengancam perjalanannya. Di sini perlu dicamkan; keharusan adanya pemimpin/Syaikh dalam jamaah, karena salah satu syarat dari jamaah adalah adanya seorang pemimpin, Syaikh atau Imam.
Imam Az Zubaidiy, seorang pensyarah Ihya’ Ulumuddin berkata, “Sebagian di antara hukum bagi murid adalah bahwa ketika ia tidak menemukan guru yang membimbingnya di daerahnya, maka ia wajik berhijrah kepada guru yang mendapatkan wewenang pada masanya. Kemudian ia tinggal bersama gurunya.” (Ittihaafus Sadaatil Muttaqiin, Syarah Ihyaa’ Uluumuddien Juz VII hal. 381).
Hujjatul Islam Al Imam Al Ghazali berkata, “Murid (pelaku spiritual menuju makrifatullah) pasti membutuhkan Syaikh dan guru yang dijadikan panutan agar menunjukkan kepadanya jalan yang lurus. Karena sesungguhnya jalan agama itu samar. Sedangkan jalan-jalan syetan itu banyak dan jelas. Siapa saja yang tidak memiliki guru, maka syetan pasti akan menuntunnya menuju jalan-jalan syetan. Siapa saja yang menyusuri jalan pedalaman gurun yang merusak tanpa pengamanan, maka ia telah membahayakan dirinya sendiri dan menghancurkannya. Orang yang menyendiri (tanpa guru) bagaikan pohon yang tumbuh sendiri. Ia akan kering dalam waktu dekat. Andaikan pohon itu bisa bertahan dan bardaun, maka ia tidak akan berbuah. Karena itulah, murid hendaknya berpegangan dengan guru sebagaimana orang buta di pinggir sungai berpegangan dengan penuntunnya secara total. Ia tidak menyelisihi penuntunnya, baik ketika masuk atau keluar. Ia tidak menyisakan sesuatu pun dalam mengikuti penuntunnya dan tidak meninggalkan penuntunnya itu. Hendaklah seorang murid mengetahui bahwa manfaat dalam mengikuti kesalahan seorang guru andaikan guru itu salah, jauh lebih besar daripada manfaat kebenaran yang ia peroleh secara mandiri, andaikan ia itu benar.” (Ihya’ Uluumuddin cetakan Darul Fikri Juz III hal. 81).
Imam Abu Ali Ad Daqqaq berkata, “Tumbuhan jika tumbuh sendiri tanpa ada yang menanamnya andaikan berdaun, namun ia tidak akan berbuah. Demikian juga dengan seorang murid. Jika ia tidak memiliki guru dimana ia mengambil thariqahnya secara langsung, maka ia seperti menyembah nafsunya sendiri dan tidak akan menemukan jalan keluar.” (Ittihaafus Saadaatil Muttaqiin Juz V hal. 371).
Salah seorang Imam Agung Tasawuf, Syaikh Abul Qosim Al Qusyairi berkata, “Kemudian wajib atas seorang murid untuk bertatakrama dengan seorang guru. Jika ia tidak memiliki guru, maka ia tidak akan sukses selamanya. Bagaimana tidak, sedangkan Abu Yazid dengan segala kelebihan ruhaninya masih berkata: ‘siapa yang tidak memiliki guru, maka syetan menjadi imamnya.” (Ittihaafus Saadaatil Muttaqiin Juz VII hal. 371).
Di era modern saat ini, membanjirnya informasi serta kemajuan intelektualitas, terbukti tidak berhasil mendewasakan perkembangan kejiwaan banyak manusia. Hal ini terbukti dengan banyaknya kegelisahan yang tidak beralaskan, meningkatnya angka bunuh diri dan maraknya obat penenang. Bagi kita pengamal Wahidiyah, selama kita berpegang dengan Al Ghauts yang kita yakini, Insya Allah hati kita akan dianugerahi Allah ketenangan dan petunjuk Allah tiada henti. Amin! Wallahu a’lam. (Zk)
Diambil dari Majalah AHAM EDISI 73 TH.X SYAWAL 1428
aham_wahidiyah@yahoo.com



bunga berkata,
Februari 9, 2009 pada 3:15 pm
ass…aham yth,saya pengamal dr palembang gimana ya cara saya agar senantiasa slalu lillah-billah,lirrosul-birosul,lilghouts-bilghouts..yg slama ini slalu di ajarkan beliau romo yahi wa r.a terkadang saya malu tidak bisa menerapkan itu dlm kehidupan sehari-hari saya?
jazakumulloh khairoti katsiron
wss wr wb
bunga berkata,
Februari 9, 2009 pada 3:16 pm
selamat berjuang “fafirru ilaloh”…
ale berkata,
Juli 28, 2009 pada 11:31 am
segala puji hanya bagi allah atas segala nikmat dan karunia Nya yang terlimpah.yang telah banyak memenuhi segala kebutuhan mahluknya.kebuthan akan petunjuk menujunya merupakan hal yangpaling pokok untuk diketahui.mohon petunjuk bagaimana caranya unutuk dapat berhubungan rohani kepada alghaust.